Posts from the ‘Kampusku’ Category

Info Beasiswa MA Islamic Studies Leiden!

 

The Indonesian Young Leaderslogo-leiden.jpg

The Indonesian Young Leaders programme is a continuation of the intensive cooperation between the Indonesian Ministry of Religious Affairs and Leiden University, which started in 1985 with INIS, Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies. The Indonesian Young Leaders Programme is similar to the INIS programme as it also offers training and research in Leiden and at other Dutch Universities.

The Indonesian Young Leaders Programme is a scholarship programme – from 2006 until 2011 – which strives to enhance Indonesia’s future leadership by upgrading –present and future – human resources of institutions of higher Islamic education. The programme consist of two strongly linked and mutually reinforcing instruments: 1) International Conferences and 2) Education and training (Upgrading courses, MA and PhD).

MA Course information

In sum, 30 MA fellowships will be made available and allotted to the Islamic Studies programme in Leiden over the course of five years. The focus of this MA programme is on research methodology and consists of both classical disciplines and social sciences. It aims to equip students with a critical attitude and the necessary intellectual instruments to analyse societal and religious issues.

The students will study in Leiden for the period of some 18 months: 12 months for taking classes and 6 months for writing a thesis. The application deadline for the first ten scholarships is 15 October 2006. After selection a two-month English pre-departure training will be given in Jakarta. The MA programme in Leiden will start in February 2007. Deadlines for the subsequent two batches are 15 March 2007 (start programme in Leiden in September 2007) and 1 February 2008 (start programme in Leiden in September 2008).

MA Requirements

To be eligible for the Indonesian Young Leaders programme, the candidate must meet the following requirements:

– be an Indonesian national
– have a S1 degree from either a state sponsored or non-state sponsored Islamic Indonesian University
– have a background in Islamic Studies
– willing to take part in the programme fulltime for the complete duration of the scholarship.
– have a high level of English proficiency (TOEFL 550, after pre-departure English training)
– be in good health
– not be above the age of 40 years (men) or 45 years (women) on the application deadline

MA Application Procedure

Please submit the following documents in threefold by the application deadlines at the latest:

a. Application form (available here)
b. Motivation Statement
c. Curriculum vitae (format available here)
d. Proposal for either your proposed upgrading course or MA thesis (500 words)
e. A copy of your KTP
f. A copy of your passport
g. A legalized copy of your birth certificate
h. Two recent photographs (3×4; colour)
i. A certified true copy of your S1 diploma
j. A copy of the original of your statements of grades and a translated transcript
k. Two letters of recommendation

Based on the academic assessment Leiden University will create a short-list of students, who will be interviewed by NEC (Netherlands Education Centre). An Independent Selection Committee will select the candidates to be awarded a scholarship.

Please send the files in threefold (on A4 format) to:

Netherlands Education Support Office Indonesia (NESO)
Menara Jamsostek 20th floor
Jl. Gatot Subroto no 38
Jakarta 12710, Indonesia

 

 

Advertisements

PEMILU RAYA KAMPUS DAN PEMBELAJARAN POLITIK

Oleh: Ahmad Fathan Aniq

Pemilu Raya Kampus 2004 sebentar lagi digelar. Parpol-parpol kampus peserta pemilu tengah bersiap menyolidkan barisan. Musyawarah, kongres dan konvensi untuk mengganti pengurus partai dilakukan, mulai dari tingkat Dewan Perwakilan Daerah (jurusan), Dewan Perwakilan Wilayah (fakultas) dan Dewan Perwakilan Pusat (universitas). Usai pergantian pengurus dengan ketua partai yang baru, partai akan memilih kader terbaiknya untuk duduk di kursi kepresidenan.

Kesibukan menjelang pemilu tidak hanya terjadi dalam tubuh partai saja. DPMU (DPR-nya kampus) juga membentuk Panitia Pemilihan Umum (PPU) – KPU-nya kampus. Selanjutnya, PPU inilah yang akan menyusun dan menggodok mekanisme Pemilu Raya Kampus.

Sistem perpolitikan kampus merupakan miniatur sistem perpolitikan di negara kita. Ada lembaga eksekutif, legislatif, partai-partai dan ada KPU. Ini merupakan pembelajaran politik bagi mahasiswa. Tetapi seberapa besarkah perhatian mahasiswa terhadap perpolitikan kampus?

Ternyata, mahasiswa yang menaruh perhatiannya adalah mereka yang aktif dalam organ-organ kampus, baik ekstra maupun intra. Mereka yang kurang ngeh terhadap perpolitikan kampus biasanya disebut sebagai The Floating Mass atau massa mengambang dan mereka inilah massa terbesar dalam kampus ini.

Biasanya, apologi mereka tidak menyelami perpolitikan kampus adalah bahwa politik adalah dunia ‘hitam’ dan kejam, sikat sana sikut sini, yang penting usaha sampai. Apologi teman-teman kita ini memang tidak salah dan tidak pula sepenuhnya benar. Apa yang mereka khawatirkan memang ada dan kerap terjadi. Tetapi itu semua kembali kepada kita, bagaimana kita bisa menyikapinya dengan benar dan bijaksana, syukur-syukur kalau kita bisa merubahnya.

Manusia, menurut Aristoteles, adalah zon politicon. Apapun tindakan manusia tidak akan lepas dari nilai politik. Sikap untuk tidak berpolitikpun merupakan tindakan politis. Bagaimana tidak, sikap netral (golput) tentu akan menciptakan kelas baru yang secara tidak langsung diakui keberadaannya. Apapun tindakan anda, anda tetap berpolitik. So, apa salahnya kita ikut berpartisipasi dalam pemilu kampus dengan mengambil peran di dalamnya? Itung-itung cari pengalaman dan pembelajaran. Siapa tahu, besok ada yang nawarin jadi caleg, atau minimal bisa cas-cis-cus mengomentari berita di depan TV. Kan itu lebih baik dari pada jadi orang kuper.

Memilih Pemimpin

Thomas Aquinas, seorang tokoh pengagum Aristoteles abad ke-13 meniscayakan adanya segolongan orang yang menjadi pemimpin. Manusia menurutnya berada pada posisi yang sederajat sejak dilahirkan. Kesamaan derajat itu berkonotasi teologis dalam arti bahwa manusia sederajat di hadapan Tuhan. Di sisi lain manusia jelas memiliki perbedaan. Sebagian manusia memiliki kelebihan dari manusia lain dalam kekuatan fisik, kemampuan mengetahui kebajikan dan kebenaran serta potensi-potensi lain yang belum tentu dimiliki orang lain.

Berdasarkan premis itu, Thomas berkesimpulan bahwa kebanyakan manusia harus menerima kepemimpinan manusia yang memiliki kelebihan-kelebihan itu. Melalui merekalah nilai-nilai kehidupan yang baik dapat ditransmisikan kepada orang lain.

Salah satu agenda dari pemilu kampus mendatang adalah memilih presiden-presiden baru yang akan memimpin jurusan, fakutas dan universitas. Pemilihan presiden ini menjadi begitu penting, mengingat di pundak merekalah dibebankan sebuah faktor kemajuan jurusan, fakultas dan universitas beserta person-personnya.

Maka, dalam pemilihan presiden pada Pemilu Raya Kampus mendatang, para mahasiswa diharapkan benar-benar menyeleksi orang yang akan menjadi pemimpin mereka. Tidak hanya dengan ikut-ikutan memilih atau membeo karena perintah dari orang yang mereka percayai. Tetapi, dengan benar-benar mengenal kepribadian calon pemimpin mereka. Atau, sebagaimana konsep Thomas yaitu dengan memberi kesempatan kepada orang-orang yang mempunyai kelebihan untuk memimpin kita.

Dari konsep Thomas Aquinas di atas, bisa kita tarik benang merah dengan konsep Hobbes, John Locke dan Rousseau tentang manusia dalam keadaan alamiah. Manusia, menurut mereka, dalam keadaan alamiah tidak memiliki kaidah, hukum, negara dan juga pemimpin. Maka, untuk mengatur kehidupan mereka, manusia alamiah membuat kontrak sosial untuk membentuk suatu negara hukum dan menentukan pemimpinnya.

Yang ingin saya tegaskan di sini adalah ketika manusia alamiah menentukan pemimpinnya. Manusia alamiah memilih pemimpin mereka tanpa ada tekanan politik, sentimen ataupun emosional yang mempengaruhi mereka untuk menentukan pilihan. Mereka memilih pemimpin semata-mata dengan melihat kemampuan dan talenta calon pemimpin. Mereka memilih pemimpin dengan rasionya.

Konsep manusia alamiah di atas memang hanya sebuah hipotesis dan (hampir) tidak ada.

Maka, apakah mungkin cara memilih pemimpin seperti manusia alamiah di atas diterapkan dalam pemilihan kampus mendatang? Pengambilan keputusan sekarang ini serba dipengaruhi oleh sentimen-sentimen (kelompok) dan kepentingan. Maka, saya kira sulit atau bahkan tidak mungkin bagi orang-orang yang ‘berkepentingan’ untuk menentukan pilihan mereka seperti manusia alamiah. Tetapi, saya kira masih mungkin bagi the floating mass.

Jadi, bagaimana kalau the floating mass menentukan pilihan mereka seperti konsep manusia alamiah di atas?

Ciputat, Mei 2004

Tulisan ini saya tulis ketika mulai maraknya pemilu raya kampus UIN Syahid 2004. Dimuat di buletin kecil dwi mingguan “Paradoks”.

DURIANKU BUKAN DURIANMU!

Oleh: Ahmad Fathan Aniq

Sebulan yang lalu, ketika Ujian Akhir Semerter (UAS) untuk tingkat satu dan dua Fakultas Dirasat Islamiyah telah usai, dan kebanyakan dari mereka sudah enggan untuk kembali lagi ke kampus kecuali hanya beberapa orang saja yang iseng-iseng melihat nilai UAS yang sudah keluar dan dipampang di papan-papan pengumuman, bahkan sebagian lagi ada yang sudah pulang ke kampung halaman atau keluar dari kawasan Ciputat. Saat itulah berita tentang “durian runtuh” (beasiswa) yang tidak jelas juntrung-nya itu tersebar di kalangan sendiri. Tidak banyak yang tahu, hanya untuk kalangan sendiri! Ssst, rahasia!

Apakah ini salah satu taktik agar keberadaan durian runtuh itu tidak sampai tercium oleh orang lain di luar kalangan sehingga pembagian durian tetap dengan buah-buah yang besar? Ah, itu saya tidak tahu. Tapi dasar, bagaimanapun rapinya buah itu disembunyikan, yang namanya durian tetap saja ketahuan. Yang menjadi pertanyaan juga di mana durian itu jatuh, dan untuk siapa? Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada pihak Dekanat, tidak ada jawaban yang memuaskan atau yang dianggap cukup untuk mendapatkan nilai A pada mata kuliah keadilan.

Mengapa tingkat I dan II begitu getol mengungkap kasus durian ini? Apakah mereka ingin makan durian juga? Inti permasalahan sebenarnya bukan pada kebagian dan tidak kebagian (baca: dapat bagian dan tidak dapat bagian) buah ajaib itu, kalau hanya sekedar untuk mendapatkan buah seperti itu saya kira orang tua sobat-sobat FDI masih sanggup mengirimkannya, tetapi permasalahan yang lebih urgen adalah ada indikasi hilangnya hati nurani orang-orang yang memegang durian ini.

Durian yang menurut riwayat berjumlah 100 buah (baca: 100 jeti) ini, setelah mengalami penyusutan-penyusutan tinggal 85 buah, dan konon cerita berasal dari Depag, pada awalnya hanya untuk didistribusikan kepada seratus mahasiswa FDI dan Depag tidak memberikan kriteria penerimanya. Permasalahan mulai muncul ketika orang yang diamanati untuk mendistribusikan durian ini, hanya membagikannya kepada tingkat III dan IV saja tanpa menghiraukan tingkat dibawahnya. Alasannya sederhana saja, bahwa tingkat I dan II belum tahu apa-apa dan pembagian durian hanya kepada tingkat “tua” ini sudah menjadi tradisi. Mungkin alasan yang terakhir ini bisa diterima, tapi ingat!, durian runtuh ini bukan durian yang jatuh tiap tahun. Atas dasar apa mereka berani menjamin bahwa tahun depan akan ada durian runtuh lagi?

Permasalahan ini secara langsung maupun tidak, akan berdampak kepada timbulnya cakar-cakaran di Dirasat sendiri. Masing-masing membawa ego angkatannya dan setiap ada isu durian jatuh, maka ego angkatan lagi-lagi akan dikedepankan dengan merasa bahwa angkatan merekalah yang paling berhak dengan durian runtuh. Pihak Dekanat sebagai distributor seharusnya “cerdas” menyikapi hal ini, mereka setidaknya mulai berani meninggalkan tradisi-tradisi cari untung dan nggak mau repot. Mulailah belajar menerapkan nilai-nilai keadilan dalam pengambilan keputusan.

Tradisi makan durian per-angkatan ini kalau tidak dibereskan mulai sekarang maka ia akan menjadi mata rantai yang panjang. Dan sepanjang mata rantai itulah keadilan dan hati nurani akan terus digadaikan. Ironis, Dirasat yang tinggal memiliki kebanggaan satu-satunya sebagai fakultas yang paling islami di lingkungan UIN justru di dalamnya berbau busuk. Haruskah kata-kata “malu aku menjadi mahasiswa Dirasat” keluar dari mulut mahasiswa FDI yang konon fakultas program inter-nasional ini? Alangkah bijaknya kalau durian runtuh ini disalurkan kepada para mahasiswa yang tidak pernah mencicipi durian (baca: kurang mampu), atau kepada para mahasiswa yang memiliki prestasi di kelasnya. Atau lagi-lagi kalau memang nggak mau repot bagi rata saja. Adil kan?

Ciputat, Maret 2004

Tulisan ini saya tulis ketika duduk di smt IV UIN Syahid. Dimuat di buletin kecil dwi mingguan “Paradoks”. Isi tulisan menyoal tentang “ketidakjelasan” dana beasiswa di FDI.