Posts from the ‘Jejak Langkah’ Category

Personal growth course travels to the Netherlands

Alpha Amirrachman ,  Contributor, Delft, the Netherlands   |  Thu, 06/12/2008 10:18 AM  |  Potpourri

In a time when competition is high and a hedonistic way of life sometimes pervasive, a training program recently tried to inject new spirit into people’s lives at an Indonesian Diaspora meeting in the Netherlands.

Participants of the Emotional and Spiritual Quotient training program in Delft, the Netherlands, conduct exercises lead by the program’s trainers. (JP/Alpha Amirrachman)Participants of the Emotional and Spiritual Quotient training program in Delft, the Netherlands, conduct exercises lead by the program’s trainers. (JP/Alpha Amirrachman)

The Emotional and Spiritual Quotient (ESQ), founded by Ary Ginandjar, is a multi-media training program to encourage personal growth in leadership, well-being and Islamic spiritual values.

The three-day course is conducted in a theatrical manner, sometimes directly engaging — and challenging — participants.

“Do you love your children or God?” yelled trainer Syamsul Rahman against the backdrop of a movie of the Prophet Ibrahim, who was instructed by God to slaughter his son Ismail.

Syamsul said that after the training, participants would not be bogged down with despair over the loss of loved ones or when they fail to reach their targets in work.

“There is always a blessing in disguise,” he said on the sidelines of the presentation, adding that participants were gently encouraged to reflect on many aspects of their life, both the successes and failures.

Syamsul was flown in from Indonesia to deliver the recent training in a huge sport gym in the city of Delft, between Rotterdam and the Hague.

Creative leadership exercises and games were also presented to pump up the intellectual, social and entrepreneurial aspects of the participants.

William Satriaputra de Weerd, an Indonesian living in the Netherlands who organized the training, said there had been 350 ESQ alumni in the country since it was first conducted in 2006.

“Thirty-six participants today are from around Europe such as the Netherlands, France and the UK,” said William, who has lived in the Netherlands since 1974.

Couple Mujilah and Hans Ham from Amsterdam said the training had given them time to reflect on their everyday lives.

“It releases us from our regular stress,” said Mujilah.

“The training is a breakthrough in examining the human mind; it goes beyond contemporary approaches,” said surgeon Hisham from London.

His wife, IT consultant Azlin, said they had promising careers and money but something had been missing. “We have found it here,” she said.

Ahmad Fathan Aniq from Leiden had a slightly different perspective. “While I don’t really agree with using scientific explanations for the Koran, because it restricts the holy book into time-space bounds, the leadership and emotional development in the training is really mentally refreshing.”

“I feel that I have been able to revitalize all the positive values that are already embedded but underdeveloped deep in our psyches,” he said.

The first day of the training fell under the theme Inner Journey, where participants joined interactive dialogues filled with philosophical stories, exercises and games to enable them to identify their personal potential.

The second day was Outer Journey, introducing participants to the vastness of the universe and the unlimited potential it offers our lives.

The last day focused on Building Creativity, exploring possible action, missions in life, character building and self-control.

While a majority of the participants were Muslims, anyone was welcome in the course, William said.

“Now there are around 500,000 alumni in Indonesia and 3,000 of them are non-Muslims,” Syamsul added.

Syamsul said due to the increasing demand, founder Ary was now in the process of designing “ESQ Universal” to reach wider audiences including non-Muslims “so that everyone can fully benefit from this program”.

http://www.thejakartapost.com/news/2008/06/12/personal-growth-course-travels-netherlands.html

Advertisements

Komisi Hak Asasi Manusia di Indonesia dan Malaysia

Hampir 15 tahun Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menjalankan tugasnya menyelidiki, memantau dan memediasi permaslahan HAM di Indonesia. Dalam rentang waktu yang tidak singkat itu, Komnas HAM telah mewarnai perjalanan penegakan HAM. Perjalanan ini tidaklah ringan. Karena dengan segala keterbatasan wewenangnya, Komnas HAM dihadapkan pada setumpuk kasus pelanggaran HAM yang harus diselesaikan. Terlebih di tahun-tahun awal berdirinya, seperti umumnya di negara-negara berkembang, Komnas HAM harus berani melawan kekuatan rezim militer yang mengendalikan pemerintahan. Keadaan yang hampir sama juga dihadapi oleh Suruhanjaya Hak Asasi Manusia Malaysia (SUHAKAM), semacam komisi nasional dalam bidang HAM di Malaysia.

Hal inilah yang menarik perhatian Ken Setiawan, seorang peneliti pada Van Vollenhoven Institute, Universitas Leiden. Pada hari Kamis 27 Maret kemarin, bertempat di ruang pertemuan KITLV, Ken menyampaikan hasil sementara penelitiannya mengenai peran kedua institusi negara tersebut dalam penegakan HAM di Indonesia dan Malaysia.

Sejak tahun 1990, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyerukan tiap-tiap negara untuk membentuk komisi HAM. Langkah ini diambil karena undang-undang internasional tentang HAM yang sudah disahkan ternyata sangat sulit diterapkan pada tataran negara. Tiap-tiap negara memiliki penafsiran yang tidak sama terhadap HAM. Sejak saat itu, beberapa negara membentuk komisi HAM yang berada di bawah pengawasan pemerintah. Saat ini terdapat setidaknya seratus institusi negara yang menangani masalah HAM di seluruh dunia.

Pembentukan Komnas HAM pun merupakan salah satu bentuk tindak lanjut dari lokakarya tentang Hak Asasi Manusia yang diprakarsai Departemen Luar Negeri RI dan PBB yang diadakan di Jakarta pada 22 Januari 1991. Tak heran, ketika Komnas HAM akhirnya disahkan pada tanggal 7 Juni 1993 oleh Presiden Republik Indonesia, banyak pihak yang merasa pesimis dan menganggap ada agenda tersembunyi pihak asing dalam pembentukan Komnas HAM.

Menurut Ken, ada beberapa faktor yang menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat. Di antaranya, komisi ini dibentuk atas Keputusan Presiden Soeharto No. 50 Tahun 1993, yang kala itu juga menunjuk langsung mantan Jaksa Agung Ali Said untuk duduk sebagai ketuanya. Komisi ini juga dibentuk beberapa saat setelah terjadinya peristiwa berdarah di Liquisa, Timor Timur. Terlebih lagi, komisi ini dibentuk hanya seminggu setelah konferensi PBB di Vienna, Austria. Akhirnya banyak yang beranggapan bahwa Komnas HAM dibentuk hanya untuk menjawab kritikan dan sorotan dunia terhadap kasus pelanggaran HAM di Timor Timur.

Keraguan masyarakat akhirnya luntur setelah Komnas HAM mampu menyeleseikan kasus pelanggaran HAM di Timor Timur dengan membawa pelakunya ke pengadilan. Keberhasilan ini diikuti dengan pengusutan-pengusutan kasus lain saat itu seperti kasus pembunuhan Marsinah, aktivis buruh di Jawa Timur dan pelanggaran HAM di Timika, Papua. Dalam laporannya, Komnas HAM tak jarang menunjuk pemerintah dan militer sebagai pelaku pelanggaran HAM. Karena itu, komisi ini seringkali mendapat ancaman pembubaran dari pemerintah. Namun Komnas HAM tetap saja melakukan pengusutan demi pengusutan. Hal ini akhirnya semakin menerbitkan kepercayaan masyarakat.

Keberhasilan lainnya, tambah Ken, yaitu Komnas HAM mampu membuka dan memediasi dialog antar berbagai kelompok yang berbeda. Di antaranya, menjadi mediator antara PBB dan pemerintah dalam bidang HAM. Pernah beberapa kali Komnas HAM berhasil menyarankan pemerintah Indonesia untuk meratifikasi konvensi internasional. Adapun sosialisasi pada tataran masyarakat, dilakukan antara lain dengan pengadaan workshop, training dan penerbitan. Bahkan Komnas HAM dalam hal ini tercatat sebagai organisasi pertama yang memberikan pendidikan HAM di Indonesia.

Lebih jauh, Ken juga membicarakan dinamika internal Komnas HAM, mulai dari perubahan sistem pemilihan anggota komisi sampai dengan proses pengambilan kebijakan. Menurutnya, tidak jarang kebijakan yang dikeluarkan Komnas HAM lebih dipengaruhi oleh elemen masyarakat tertentu. Seperti dalam kasus Ahmadiyah, Komnas HAM mengecam pelaku tindakan anarki terhadap warga Ahmadiyah, tetapi Komnas HAM sama sekali tidak menyinggung lembaga yang mengeluarkan fatwa pelarangan Ahmadiyah.

Mengenai SUHAKAM, Ken menjelaskan bahwa lembaga ini lahir lebih untuk menjawab realita lokal Malaysia pada tahun 1999, khusunya kasus pelengseran Anwar Ibrahim, mantan deputi perdana menteri Malaysia. Walaupun institusi ini disahkan oleh raja Malaysia, namun institusi ini sangat kritis terhadap pemerintah. Melihat peran SUHAKAM yang tidak “menguntungkan” pemerintah, Mahathir Mohamad mengatakan bahwa SUHAKAM lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan luar. Ketika Mahatir memerintah, ia beberapa kali mengganti orang-orang yang dianggap kritis dalam struktur SUHAKAM. Pemecatan dan penggantian ini terus berlanjut pada tahun 2004 dan 2006 ketika Abdullah Badawi memerintah.

Bagaimanapun, Ken menilai bahwa SUHAKAM berhasil memperjuangkan HAM di Malaysia, walaupun itu masih dalam ruang lingkup yang terbatas. SUHAKAM lebih banyak bergerak pada isu-isu yang tidak kontroversial seperti dengan menanamkan pendidikan HAM di universitas-universitas Malaysia. Walaupun, mereka juga berhasil mengusut pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan polisi atau rela yang dipersenjatai. Ken menilai bahwa keberadaan SUHAKAM masih diremehkan pemerintah. Hal ini bisa dilihat dari rekomendasi-rekomendasi SUHAKAM yang jarang didengarkan pemerintah. SUHAKAM masih kurang berinisiatif untuk terus melobi dewan dan pemerintah agar menerima rekomendasi mereka.

Secara umum, Ken menilai bahwa baik Komnas HAM maupun SUHAKAM dalam posisi mereka yang berhadapan dengan negara semi-otoriter, telah mampu mengangkat kasus-kasus pelanggaran HAM berat ke ruang debat publik. Sejauh ini, apa yang telah dilakukan kedua komisi ini banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Di Malaysia, beberapa anggota SUHAKAM yang kritis diganti. Di Indonesia, kewenangan Komnas HAM seringkali dikebiri melalui politisasi prosedural hukum. Konsekuensinya, komisi-komisi ini agak selektif dalam memilih isu-isu HAM. Sejauh menyangkut konvensi HAM internasional, kedua komisi ini masih kesulitan menerapkannya pada konteks nasional Indonesia dan Malaysia. Bagaimanapun mereka telah turut andil dalam pembentukan civil society. (fathan)


Pertemuan Dengan Soroush

Oleh Ahmad Fathan Aniq

Sore itu (Selasa, 24 Juli 2007) saya bertemu Prof. Abdul Karim Soroush, seorang filosof liberal tapi bertasbih yang nama serta pemikirannya sudah saya kenal sejak di Indonesia. Terjemahan bukunya “Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama” yang diterbitkan Mizan diresensi di banyak surat kabar harian saat itu. Tak ayal, pemikiran Soroush pun menambah deretan bahan diskusi di kalangan mahasiswa. Beliau dianggap sebagai muslim pembaharu dan disejajarkan dengan para pemikir muslim kontemporer lainnya seperti Nasr Hamid Abu Zayd, Abid al-Jabiri, Muhammad Arkoun, Sayyid Hosein Nasr dll.

Mendengar kabar Soroush akan menyelesaikan penelitiannya di ISIM Leiden dalam waktu dekat, saya dan teman-teman segera membuat appointment dengan beliau. Paling tidak kami dapat bertatap muka dengan filosof dari Iran ini. Kalau dalam istilah pesantrennya sowan kepada kyai. Kami tentu tidak ingin kesempatan yang jarang dan tidak semua orang bisa mendapakannya ini berlalu begitu saja. Tapi tentu akan menjadi lucu kalau kami hanya bertemu, berjabat tangan, minta do’a lalu pamit pulang, selayaknya orang yang datang ngalap barokah. Setidaknya perlu ada dialog interaktif antara murid dengan guru.

Di sela-sela kesibukannya, Soroush menerima kami di ruang pertemuan ISIM. Saat itu beliau tampak begitu kebapakan dalam kebersahajaannya. Dengan mengenakan kaos biru berlengan panjang, beliau duduk dihadapan kami yang juga duduk melingkarinya.

Soroush membuka dialog dengan mengemukakan akan pentingnya mempertahankan identitas agama. Terlebih bagi umat Islam yang berada di negeri-negeri Barat. Menurutnya, agama adalah suatu pilihan rasional. Orang menjadi muslim adalah karena pilihannya. Dia bisa menentukan agama apa yang yang hendak diyakininya. Ini berbeda dengan status kebangsaan, warna kulit dan suku. Menjadi suatu bangsa tertentu bukanlah suatu pilihan. Ia adalah suatu yang taken for granted. Ketika kita lahir, maka sejak saat itulah kita menjadi warga bangsa dan suku tertentu. Oleh sebab itu, konsekuensi logis dari pilihan rasional itu adalah agar kita menjaga identitas itu.

Soroush termasuk salah seorang yang giat menekankan pentingnya membedakan antara agama dan pemahaman keagamaan. Agama menurutnya telah final, sedangkan pemahaman terhadap agama akan selalu berkembang. Pembedaan ini menjadi penting demi pmbaharuan agama. Ketika kita bisa membedakan mana agama, sebagian menyebutnya sebagai syariah, dan mana yang pemahaman keagamaan, disebut juga dengan fiqh, kita tidak akan mudah terjebak untuk selalu memfosilkan pemahaman-pemahaman tersebut. Pada waktu dan tempat tertentu, pemahaman agama yang terkadang dianggap agama itu sendiri dan akhirnya tidak berani diganggu gugat, bisa jadi sudah tidak relevan lagi. Karena itu, diperlukan selalu update penafsiran. Dengan mengetahui perbedaan antara agama dan pemahaman keagamaan setidaknya akan memberikan keberanian bagi kita untuk menggugat tafsir keagamaan.

Berhubungan dengan pemahaman keagamaan di atas, dalam kesempatan itu, saya menanyakan pendapat Soroush tentang ayat-ayat ilmiyah (scientific verses). Sebagian mufassir berusaha menyocok-nyocokkan berbagai kejadian alam ataupun penemuan ilmiah dengan ayat-ayat tertentu dalam al-Qur’an. Misalnya para ilmuan mengemukakan tesis bahwa langit itu tersusun dari tujuh lapisan, serta merta para mufassir menyatakan bahwa hal itu telah termaktub dalam al-Qur’an dengan kata-kata sab’a samawat. Cara penafsiran seperti ini menurut saya bisa menjadi mempersempit bahkan menyalahkan al-Qur’an itu sendiri. Bayangkan, bagaimana jikalau suatu saat ada tesis baru lagi yang membatalkan tesis pertama dan antitesis ini terbukti lebih valid secara ilmiah. Tentu penafsiran seperti tadi akan otomatis salah. Orang luar tentu akan memandang bahwa ternyata apa yang diungkapkan al-Qur’an itu salah. Ini akibat usaha penyocokan penemuan-penemuan ilmiah dengan al-Qur’an.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Soroush menyatakan bahwa dia tidak menanggapi penafisran tersebut secara serius. Menurutnya, fungsi utama kehadiran Islam adalah untuk memperbaiki moral. Oleh sebab itu, al-Qur’an diturunkan sebagai pembimbing moral (moral guidance). Al-Qur’an bukan kitab fisika, kimia ataupun farmasi. Jadi, terhadap ayat-ayat ataupun hadits-hadits yang ditafsirkan secara ilmiah hendaklah kita tidak menyikapinya secara serius. Soroush menambahkan, dalam Muqaddimahnya, Ibn Khaldun menyebutkan bahwa terdapat banyak hadits tentang ilmu-ilmu pengobatan dari Nabi Saw. Pernah Rasulullah Saw. ditanya oleh salah seorang sahabat tentang obat-obatan. Rasulullah Saw., menurut Soroush, beliau saat itu menjawab dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa, Innamaa ana basyarun mitslukum yuuha ilayya. Tugas utama para Rasul adalah sebagai sebagai pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan, wa ma narsilul mursaliin illa mubassyiriin wa munzariin. Mereka datang untuk memberitahu akibat baik dan buruk dari perbuatan manusia.

 

Tak terasa diskusi bersama Soroush saat itu telah berjalan selama satu setengah jam. Sebentar lagi mungkin kantor ISIM akan tutup. Akhirnya, Soroush sendiri yang menutup dialog itu. Pertemuan yang cukup mengesankan. Seperti umumnya para Profesor di Leiden, beliau tidak memposisikan diri layaknya “Guru Besar” di Indonesia yang terkesan selalu ingin dihormati. Dengan nama besarnya, Soroush tidak lantas memperbesar jarak dengan mahasiswanya.

 

Leiden, 25 July 2007

Berpacu dengan Waktu

Oleh A. F. Aniq

Hari-hariku terasa cepat berlalu

Batas antara malam dan siang seakan telah kabur

Sengaja tak kupandangi waktu

Yang sedikitpun tak terkendali

Sebab,

Ketika ia kupandangi

Maka selalu kekagetanlah yang menghampiriku

Aku kaget, oh! malam ya?

Aku terkejut, oh! pagi lagi ya?

Kapan malam beralih menjadi siang?

Kapan pula siang memulai tugasnya membuka selimut paruh bumi?

Semuanya berjalan, cepat!

Hanya yang berlarilah yang takkan tertinggal

Mereka yang berjalan, pelan..

Akan tergilas!

Tugas dan rencana yang kuciptakan sendiri

Menghadang laju langkahku tuk berlari

Aku tersandung lagi,

Kucoba bangun, bangkit tuk mengejar titik ideal imajiku

Titik yang belum tentu sama dengan orang lain

Mereka yang terjatuh dan tak bangun lagi

Maka titik itupun terus berlari meninggalkannya

Menjauh, jauh…

Leiden, 01.53, 21 Mei 2007

My Beloved Village

Written by Ahmad Fathan Aniq

I used to live in Rempung. It is a small village which is situated in East Lombok region, one of seven regions in West Nusa Tenggara province. Even though nowadays it does not have a dense population, I predict some years in the future it will be a dense village, since the main street to Sumbawa island from Lombok and Bali islands passes through this village.
Rempung has a unique language which is different from other villages’ language in Lombok. Its language is rather similar to the Sumbawa language. Old Rempung people say that Rempung language has its own history. Many years ago around 17th century, when Lombok was attacked by Karangasem kingdom from Bali, some Lombok people ran away to Sumbawa island. When Lombok had its own independence from Bali, these people who missed their island went back to Lombok with their new language from Sumbawa. They are Rempung’s founding fathers.
I was happy to stay in Rempung because of its friendly villagers and its fresh air. It lies in mount Rinjani valley and is surrounded by two deep rivers both in the west and in the east of the village. This means that the natural landscape is very beautiful. Moreover, more than half of the village is still in the form of fields and gardens. When I was there, I could find many spring waters near the two rivers, as well as in my garden.
To the west of this village is an earthenware vessel artisan place called Penakak. It is well-known in Lombok even in some other countries. Many of its products are exported abroad. Not only is Penakak, as a handicraft place, find close to Rempung, but also Pringgasela which is located in the north of the village. Pringgasela is well-known for its handy-woven cloth products called songket. There are many art houses which produce and sell songket. They are spread widely over Pringgasela.
A water-fall called Pancor Kopong is a lovely place which is situated in the north west of Rempung. It is not well-known among Lombok people. However for me, it is a beautiful, small water-fall with some pools which can refresh my mind.
There are some elementary and secondary high schools in Rempung. Almost all of Rempung’s younger generation finished their study in these schools. However, now they are studying in different cities. I usually meet them on Idul Fitri day, when all of the villagers which stay in other places come back to Rempung. In my solitude, I miss my village!

Smaragdlaan, 27 April 2007

MY FIRST DAYS IN HOLLAND

Written by Ahmad Fathan Aniq

I arrived in the Netherlands on Monday morning 12th February 2007 after having a long and tiring trip from Indonesia. Although it was a tiring trip, I enjoyed it because it was my first trip which over such a long distance and time. The trip took for about 15 hours by Malaysia Airlines. I and eleven of my friends transited once in Kuala Lumpur, the capital city of Malaysia, and then we continued our trip to Amsterdam.

When the plane landed at Schiphol Airport in Amsterdam, it was raining. We arrived at 6.10 am. early in the morning. The temperature at that time was 7˚ Celcius. It was extremely cold for me. Immediately I was conscious that I was in Europe, a place I had only imagined before.

On my way from Schiphol Airport to Smaragdlaan, my home now, I looked at the many birds and ducks which swam freely on the canals. It was wonderful for me, because I rarely saw like this scenery in my country. I also saw windmills which are the icon of Holland. When I was in Indonesia, I could only find windmills in the Holland bakery. Almost all Holland bakeries have small windmills at the top of buildings as a sign of Holland. So, I am rather familiar with the windmill. But what I see here now is the real thing.

Actually when I went to the Netherlands, I was in recovery time from my illness and I needed some relaxation. So my first day here was a terrible day. I had to go to International Office to register and I had to walk as fast as what the other people did here. I also had to adapt to the weather which was so cold for me, that I had to wear many clothes and a thick jacket. Fortunately, I got better here and I did not relapse.

In the morning, when I got up, I always looked at the sun to determine which way is east, west, north and south. I wonder at the way of the sun here, because it never passes right over my head, the way it does in Indonesia. I hear that in summer it will be right over our heads and the day will be longer than the night. But I don’t know exactly. Everything about natural phenomena here is new for me.

As far the food, I am still not used to eat Dutch food. I like the food but I don’t feel full if I only eat some bread. I have to eat rice as my ultimate food and I have to cook everyday. I think it wastes time so I suppose that in the future I will be able to feel full.

Before having a bicycle, every time I wanted to go out I always got on a bus. I have a certain impressions of this kind of transportation. The buses and trains here are very punctual. We do not need to wait for a long time, they come right on schedule. But I think the price for getting on the bus or the train is very expensive. So, later I bought a bicycle in order to save some money. It is nice to ride a bicycle here, because bikes have their own route. But I had a little difficulty the first time I rode a bicycle here, because I had to ride on the right hand. It is different in Indonesia which is on the left.

Holland or Leiden especially is an artistic city. There are old buildings with beautiful architectures here. The Leiden people still maintain those old buildings as well as all ancient goods. So it is not difficult to find many museums in this city.

I am also interested in the method of learning here. I can find many books in the libraries even in Indonesian language. The books which talk about Lombok literature only I can find them for about 650 titles. A big number that I never found it even in my country. Manuscripts which were written long times ago are also available here. I think it is nice to learn here. The lecturers are also so kind and friendly. One thing that I like about the people here, they are helpful.

Generally, I enjoy staying and learning in Leiden. I can learn not only from the class but also from the environment. How to communicate with other people who have different backgrounds to me, how to live this valuable life without wasting the time, and how to learn well are all kinds of learning.

Leiden, 23 February 2007