Posts from the ‘HiKMAH’ Category

Jauhilah Hasad

Oleh Ahmad Fathan Aniq

Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam ajaran Islam di samping akidah dan hukum. Akhlak bersumber dari jiwa.Kalau jiwa seseorang baik, niscaya baiklah perilakunya. Sebaliknya, jika jiwanya buruk, buruk pula perilakunya. Rasulullah SAW bersabda, ”Ingatlah! Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah tubuh itu semuanya. Dan jika ia rusak, rusaklah tubuh itu semuanya. Ingatlah! Segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hasad adalah salah satu dari sekian banyak penyakit hati yang ada di dalam diri. Ibnu Taimiyah mengartikan hasad sebagai perasaan tidak suka dengan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada orang lain. Dalam bahasa Indonesia, biasanya diartikan dengan dengki atau iri hati. Orang yang memiliki sifat hasad cenderung resah ketika orang lain senang, tapi gembira bukan kepalang ketika melihat orang lain susah. Mereka melihat orang lain yang didengki dengan pandangan negatif. Sebaik apa pun pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang didengki itu, akan selalu tampak salah di mata orang yang dengki.

Maka benarlah kalau Rasulullah SAW sampai mengingatkan, ”Jauhilah hasad, karena hasad itu dapat menghapuskan semua kebaikan sebagaimana api yang membakar kayu.” (HR Abu Daud). Seorang pendengki dalam meluapkan kedengkiannya biasanya akan melakukan tindakan tidak terpuji. Contohnya, ketika ia melihat keberuntungan orang lain, sebisa mungkin ia akan merusak nama baik orang yang beruntung itu, baik dengan menggunjingkannya (gibah), mengadu domba (namimah), bahkan dengan memfitnahnya.

Pada hakikatnya, orang-orang yang hasad senantiasa menebarkan rasa permusuhan terhadap orang lain. Tidak ada keuntungan dari hasad karena hanya akan merugikan si pendengki sendiri. Andaipun nikmat yang ada pada seseorang yang didengki itu hilang sebagaimana yang dikehendaki oleh si pendengki, nikmat itu tidak akan berpindah kepadanya, sebesar apa pun rasa hasad itu. Jika hal ini telah disadari, untuk apa kita menyimpan hasad dalam hati.

Selain itu, hasad juga digambarkan di dalam Alquran sebagai karakter orang-orang Yahudi. Allah SWT berfirman, ”Ataukah mereka dengki pada manusia (Muhammad) lantaran karunia Allah telah diberikan kepada manusia itu?” (QS Annisaa [4]: 54). Karakter dengki membuat orang Yahudi tidak akan pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Maka, apabila ada seorang Muslim yang berwatak pendengki, ia tak ubahnya seperti orang-orang Yahudi. Sebagaimana hadis Nabi SAW, ”Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Daud). Semoga Allah SWT selalu menjauhkan kita dari sifat hasad.

Republika, 16 Februari 2009

Advertisements

Memaknai Idul Fitri

Oleh: Ahmad Fathan Aniq

Bulan Ramadhan telah berlalu dan tibalah kini hari raya Idul Fitri. Setiap kali Hari Raya tiba, umat Muslim selalu diliputi dua perasaan. Di satu sisi mereka bersedih karena harus berpisah dengan bulan yang sangat istimewa yaitu bulan Ramadhan. Bulan dimana Allah SWT. dengan ke-Mahapemurahan-Nya memberikan banyak bonus pahala ibadah dan dibukakan-Nya lebar-lebar pintu ampunan bagi hamba-Nya. Betapa banyak umat Muslim yang bersedih karena ditinggal bulan yang penuh kasih sayang Allah ini. Mereka merasa belum optimal menjalankan ibadah puasanya. Namun begitulah hari-hari terus berganti sesuai dengan hukum Allah. Yang bisa kita lakukan agar tidak termasuk orang merugi adalah dengan terus meningkatkan kualitas iman dan amal baik kita.

Di sisi lain, umat Muslim juga berbahagia, karena hari Idul Fitri atau lebaran yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Bagaimana tidak, ini karena Idul Fitri diyakini sebagai hari kemenangan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Kemenangan setelah sebulan lamanya kita mampu mengendalikan hawa nafsu. Idul Fitri juga bisa digambarkan sebagai hari kelulusan dari sekolah Ramadhan. Pada hari ini semua siswa yang telah mengikuti pelatihan dengan baik di sekolah Ramadhan akan berbahagia karena mereka lulus dengan predikat muttaquun (orang-orang yang bertaqwa).

Idul Fitri secara etimologi atau bahasa berarti “kembali berbuka”. Ini sekaligus meluruskan pemahaman kita selama ini yang mengartikan Idul Fitri dengan “kembali ke fitrah”. ‘Id berasal dari kata ‘aada yang berarti “kembali”, sedangkan al-fitr berasal dari akar kata fathara yang berarti “berbuka”. Selama ini al-fithr sering disamakan dengan al-fithrah yang memakai ta marbuthah yang berarti suci. Kedunya memang memiliki akar kata yang sama tetapi memiliki masdar yang berbeda (Lisaan al-‘Arab 5/55-59). Dalam teks hadits Nabi Saw., penyebutan Idul Fitri tidak menggunakan ta marbuthah. Jadi, secara bahasa Idul Fitri lebih tepat bila diartikan dengan kembali berbuka.

Namun bagaimanapun juga, dalam sejarahnya, Islam tidak terlahir dengan paradigma materialistik. Ditetapkannya hari raya Idul Fitri tentunya bukan sekedar untuk memenuhi hajat dan tuntutan perut. Jadi, terlalu sempit kalau mengartikan Idul Fitri semata-mata sebagai momentum untuk diperbolehkannya kembali makan dan minum. Tentunya ada makna yang lebih dalam dari Idul Fitri.

Dalam hal ini, ‘ulama ahli hikmah melihat ‘Idul Fitri dari kacamata filsafat. Mereka mengartikan ‘Idul Fitri sebagai kembalinya manusia dalam keadaan suci sebagaimana mereka baru dilahirkan setelah jiwa dan fisik mereka ditempa selama bulan Ramadhan. Pengertian ini sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai selama menjalankan ibadah puasa, yaitu menciptakan manusia yang bertaqwa. Ibadah puasa bagi umat Muslim merupakan sarana untuk penyucian diri sebelum akhirnya mencapai tujuan akhir puasa yaitu taqwa. Karena logika seperti inilah akhirnya pemaknaan ‘Idul Fitri sebagai hari kembali kepada kesucian menjadi kuat dan populer di masyarakat Indonesia.

Orang yang melaksanakan ibadah puasa dengan benar maka dosanya akan dihapuskan. Dari Abi Hurairah Ra, Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah mengampuni dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim). Dalam beberapa hadits juga dikatakan: “…bersih/suci bagaikan bayi yang baru dilahirkan”. Dengan Kasih Sayang-Nya, Allah mengampuni semua dosa hamba-Nya kepada-Nya. Yang tersisa tinggallah dosa sesama manusia. Untuk menghapus dosa ini tentu tidak cukup dengan memohon ampun kepada Allah SWT. Allah memerintahkan kita untuk meminta maaf dan memberi maaf kepada sesama manusia. Karena dalam menjalani hidup, kita tentunya teramat sering menuruti hawa nafsu dan menyakiti orang lain demi untuk mencapai ambisi-ambisi duniawi.

Teramat banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk saling memaafkan. Saling memaafkan inipun merupakan salah satu ciri orang-orang yang bertaqwa sebagaimana juga yang dicitakan oleh puasa. Allah SWT berfirman: “Dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Baqarah: 237). Dalam ayat yang lain Allah SWT juga berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran: 132-133).

Hari Raya ‘Idul Fitri menjadi momen yang tepat untuk saling memaafkan. Memang, Rasulullah Saw. mengajarkan kita untuk saling memaafkan sesegera mungkin setelah kita berbuat kesalahan. Tetapi terkadang hati dan mental kita belum siap untuk melakukannya. Meminta maaf dan memaafkan bukanlah perkara mudah. Oleh sebab itu, setelah menjalani pelatihan mengendalikan nafsu, umat Muslim diharapkan memiliki mental yang cukup kuat untuk saling memaafkan di Hari Raya ‘Idul Fitri. Jadi, saling memaafkan di hari ‘Idul Fitri seharusnya tidak sekedar menjadi ritual dan formalitas tanpa makna. Budaya saling memaafkan di Hari Raya ‘Idul Fitri atau biasa disebut halal bihalal kini menjadi tradisi positif di Indonesia.

Hal lain yang perlu ditegaskan kaitannya dengan ‘Idul Fitri sebagai simbol kemenangan setelah berpuasa adalah sejauh mana ibadah kita selama sebulan itu mampu meningkatkan kepekaan sosial kita. Inilah sebenarnya yang menjadi cita-cita luhur dari berpuasa. Disamping ibadah vertikal kepada Sang Khaliq, tidak kalah pentingnya juga kita dituntut beribadah secara horizontal. Dalam Surat al-Ma’un Allah SWT dengan gamblang menyebut mereka yang tidak memperdulikan anak yatim dan orang miskin –yang menjadi simbol sosial masyarakat- sebagai pendusta agama. Yatim dalam hal ini bukan saja anak yang ditinggal wafat bapaknya. Penafsiran seperti ini lebih dipengaruhi kondisi Timur Tengah dimana bapak menjadi tumpuan hidup. Yang lebih penting adalah adanya keterputusan antara seorang anak dengan tumpuan hidupnya. Dalam hal ini di Indonesia bisa kepada kedua-duanya antara bapak dan ibu.

Dalam ayat lanjutannya Allah bahkan mengancam mereka yang lalai dengan salatnya, yaitu celakalah bagi mereka yang salatnya tidak membawa efek sosial. Terlebih lagi mereka yang memamerkan kemewahannya di atas penderitaan orang lain dan enggan untuk memberikan bantuan. Akan sia-sia amal ibadah seseorang kalau hubungan horizontalnya dengan sesama manusia bermasalah.

Melalui momentum ‘Idul Fitri ini, sekali lagi marilah kita saling memaafkan dan membuka hati. Kita tumbuhkan jiwa dan rasa kepekaan sosial kita. Selamat ‘Idul Fitri, semoga Allah SWT. meridhai setiap detak dan gerak langkah kita. Amin. Kullu ‘am wa antum bi khairin. Ja’alana Allahu wa iyyakum minal ‘aidina wal faizina wal maqbulin.

Leiden, 12 Oktober 2007

Isyarat Epidemi

Oleh: Ahmad Fathan Aniq

Akhir-akhir ini masyarakat diresahkan lagi oleh bermacam epidemi mematikan seperti flu burung, antraks dan demam berdarah. Bagaimana tidak, sudah banyak korban yang meninggal dunia akibat wabah penyakit ini. Tentu masyarakat dibuat resah, terlebih sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Tetapi kita harus tetap optimis pasti ada obatnya. Karena Rasulullah Saw. pernah bersabda “Allah tidak menurunkan penyakit kecuali juga menurunkan obat baginya” (HR. Bukhori)
Dalam al-Quran kasus-kasus seperti ini setidaknya pernah disinggung walaupun secara tidak langsung. Rasyid Ridha dalam tafsirnya al-Manar menafsirkan kata at-thair dalam Surat al-Fil dengan arti hewan sebangsa serangga, bukan burung sebagaimana yang lazim kita ketahui. Dengan mengartikan at-thair sebagai serangga yang membawa penyakit, akan lebih ma’qul atau dapat diterima akal, lalat contohnya. Kenyataan bahwa lalat membawa penyakit terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri yang artinya “Sesungguhnya salah satu sayap lalat adalah racun dan yang lainnya adalah obat, maka apabila ia jatuh pada makanan, maka benamkanlah ia karena sesunguhnya ia mendahulukan racun daripada obat” (HR. Ahmad)
At-thair (serangga) dalam Surat al-Fiil ditugaskan untuk menyebarkan wabah kepada pasukan tentara bergajah di bawah pimpinan Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah. Setelah melaksanakan tugasnya dengan menyerang tentara bergajah sambil membawa bibit penyakit, tubuh para tentara pun melepuh seperti dedaunan yang dimakan ulat.
Ibarat lain yang diisyaratkan al-Quran tentang wabah penyakit, juga bisa kita temukan dalam surat al-Baqarah ayat 249. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa ketika tentara Raja Thalut yaitu raja bijaksana yang ditunjuk Allah pada zaman Nabi Daud As. (QS. Al-Baqarah: 247) akan menyeberangi sungai untuk melawan pasukan Jalut, Thalut berpesan kepada pasukannya bahwa Allah menguji mereka untuk tidak meminum air sungai tersebut. Dia berkata: “barang siapa yang minum dari air sungai itu maka bukanlah pengikutku dan barang siapa yang tidak meminumnya kecuali menciduk seciduk tangan maka ia adalah pengikutku”. Setelah diteliti, ternyata larangan Thalut untuk minum dari air sungai itu mengandung pesan moral untuk tidak gegabah dan tidak berlebihan dalam bertindak sehingga akan merugikan kesehatan.
Seorang peneliti menyatakan bahwa pada suhu tertentu, lintah akan berada pada dasar sungai atau pada kedalaman tertentu dan tidak akan naik ke permukaan air. Ini sesuai dengan larangan Thalut untuk tidak minum dari air sungai kecuali hanya seciduk tangan. Sebab jika mereka minum dengan menciduk menggunakan wadah, niscaya lintah-lintah yang berada di dasar sungai itu akan terangkat dan menempel pada wadah. Maka benarlah, ketika Thalut dan tentaranya telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum air sungai dengan menggunakan wadah berkata bahwa mereka pada hari itu tidak sanggup untuk melawan Jalut dan tentaranya. Dikisahkan mulut mereka memerah dan berdarah. Ini merupakan akibat dari keserakahan mereka dan berlebih-lebihan dalam bertindak.
Menyikapi merebaknya berbagai wabah penyakit akhir-akhir ini, hendaknya kita tidak menyikapinya dengan panik dan cemas yang berlebihan. Karena wabah-wabah penyakit yang mematikan telah ada sejak zaman dahulu sebagaimana yang tersirat dan diisyaratkan dalam kisah surat al-Fil dan kisah pasukan Thalut di atas. Bersama dengan itu, marilah kita selalu lebih waspada, lebih menjaga kebersihan dan lebih berhati-hati tidak gegabah dalam mengkonsumsi makanan. Wallahu A’lam

Ciputat, 27 November 2005

Menghargai Waktu

Oleh: Ahmad Fathan Aniq

Allah SWT menjadikan matahari bersinar, bulan bercahaya, dan ditetapkan-Nya tempat-tempat bagi perjalanan bulan, tiada lain agar kita mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah SWT menciptakan yang sedemikian itu bukan tanpa tujuan.

Terdapat banyak hikmah di balik tanda-tanda kekuasan-Nya itu. Di antaranya agar kita menghargai waktu. Caranya adalah dengan memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin.

”Maka, berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan.” (QS Al-Baqarah: 148). Kata ‘berlomba-lombalah’ pada ayat di atas mengandung arti agar kita menggunakan waktu seoptimal mungkin. Semakin optimal menggunakan waktu, semakin banyak pula kebaikan yang kita perbuat.

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman: ”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali-Imran: 133). Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan, bersegera menuju ampunan Tuhan berarti bersegera melakukan perbuatan yang dapat menutup dosa, yaitu mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Rasulullah SAW mengajarkan agar setiap Muslim menghargai waktu, utamanya waktu ‘sekarang’, karena waktu yang selalu tersedia bagi kesempatan itu ialah ‘sekarang’. ‘Sekarang’ adalah kesempatan yang terbaik.

”Apabila engkau berada pada petang hari, janganlah mengulur-ulur urusanmu sampai besok, dan apabila engkau berada di pagi hari, jangan menunda urusanmu sampai petang. Ambillah kesempatan waktu sehatmu sebelum datang sakit, dan kesempatan hidupmu sebelum matimu.” (HR Bukhari).

Dari sabda Rasulullah SAW di atas, kita dapat memahami bahwa mengulur-ulur waktu, menunda pekerjaan, dan menyia-nyiakan kesempatan sangatlah bertentangan dengan ajaran Islam. Kebiasaan mengulur waktu dan menunda kerja yang dilarang Rasulullah SAW itu jika diteruskan akan membuat umat Islam tertinggal dan lemah.

Muhammad Iqbal, seorang pujangga Muslim dari Pakistan, juga sering mengungkapkan dalam puisi-puisinya agar umat Islam bangkit dan menjauhi sikap bermalas-malasan dan tidak menghargai waktu. Karena barang siapa yang berleha-leha dan bermalas-malasan, maka dia akan ‘tergilas’.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW mengumpamakan waktu seperti sebilah pedang. Pedang merupakan sesuatu yang berguna sekaligus berbahaya. Apabila kita tidak bisa menggunakannya, maka dia yang akan memotong kita. Sejenak saja kita terlena dengan membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa sesuatu yang berarti di dalamnya, berarti kita tidak menghargai umur yang dikaruniakan oleh Allah SWT.

Harian Republika, 31 Maret 2006

Munafiq

Oleh: Ahmad Fathan Aniq

Nifaq merupakan salah satu sifat tercela dalam Islam. Orang yang melakukan nifaq disebut munafik. Ciri-ciri orang munafik bisa kita ketahui dari hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah dari Nabi Muhammad SAW, ”Jika berbicara selalu berdusta, jika berjanji selalu ingkar, dan jika dipercaya selalu berkhianat.” (HR Bukhori).

Dalam hadis lain Abdullah bin Umar Ra berkata bahwa Nabi SAW bersabda, ”Ada empat dosa sifat yang jika seseorang memperlihatkan semua cirinya, dia sepenuhnya orang munafik. Jika dia punya salah satu ciri, dia dianggap memiliki unsur-unsur seorang munafik. Ciri-ciri itu adalah berkhianat, berdusta, ingkar janji, dan memaki lawan jika ada perbedaan pendapat.” (HR Bukhori).

Ada dua jenis orang munafik. Pertama adalah orang munafik yang mengaku Muslim, tetapi tidak memiliki keimanan atas dasar Islam. Orang seperti ini bisa menipu orang lain karena dari luar tampaknya seperti seorang Muslim, seperti mempunyai nama berbau Muslim tetapi tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka ini lebih buruk daripada orang kafir dan layak mendapat siksa yang pedih. Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong bagi mereka.” (QS An Nisaa [4]: 145).

Tipe kedua adalah orang yang dalam hatinya mengaku Islam, tetapi tidak melaksanakan akhlak-akhlak utama dalam Islam. Orang seperti ini tidak digambarkan seperti orang kafir, tetapi sebagai orang fasik. Orang ini bisa masuk surga setelah menerima siksa pedih di akhirat.

Beberapa Tabi’in pernah membicarakan sifat munafik dan keinginan untuk menjauhinya. Ibrahim Tamini (wafat 92 H) yang bersahabat dengan beberapa sahabat Nabi SAW berkata, ”Setiap aku membandingkan ucapanku dengan perbuatanku, aku takut jika aku digolongkan sebagai seorang munafik, karena ada ucapanku yang berbeda dengan perbuatanku.”

Ibnu Abi Mulaikah (wafat 117 H) berkata, ”Aku bertemu dan berteman dengan 30 sahabat besar Nabi SAW yang selalu merasa ketakutan bila digolongkan sebagai munafik. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang menyombongkan keimanan dan kesalehannya ataupun membual.”

Dengan demikian, orang yang betul-betul beriman akan selalu takut menjadi seorang munafik karena berbuat sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dikatakan atau diyakininya. Wallahu a’lam.

Harian Republika, 10 April 2007