Posts from the ‘Catatan’ Category

2000 Rupiah di Tahun 2009

Sekitar dua jam sebelum azan Jumat dikumandangkan, suhu di Surabaya cukup panas menembus pori-pori kulit. Seorang paruh baya tampak begitu letih memikul anyaman-anyaman rotannya. Entah sudah berapa kilometer ia berjalan menyusuri A. Yani, jalanan utama kota Surabaya. Di bawah rindangnya pepohonan di depan Graha Pena Jawa Pos, tempat saya sengaja menunggu bis menuju Hi Tech Mall di Jalan Kusuma Bangsa, lelaki itu menyempatkan diri beristirahat melepas lelah. Ia duduk di sebaris tembok pendek yang membatasi sisi kali kecil yang airnya tidak jernih lagi. Anyaman rotannya yang menyerupai cincin-cincin raksasa itupun ia letakkan persis di depannya.

Menyadari ada saya di sampingnya, lelaki itu segera menghampiri saya dan bertanya.

“Mas, kalau kita mengikuti terus jalan ini, kita akan sampai dimana?”

Saya yang baru beberapa hari tinggal di Surabaya tidak lantas menjawab pertanyaan lelaki itu melainkan balik bertanya.

“Maaf Pak, memangnya tujuan Bapak kemana?”

“Ke Wonokromo, apa masih jauh dari sini?”

Karena mengetahui letak Wonokromo yang tidak begitu jauh dari Jalan Ahmad Yani tempat dimana Graha Pena Jawa Pos yang salah satu sisinya mirip seperti pena tegak berdiri, dengan yakin saya memberi tahu bahwa jaraknya sudah dekat. Sekitar lima menit naik angkutan. Tidak lama kemudian ada angkutan jurusan Joyoboyo lewat dan langsung saja saya menunjukkan Bapak itu, “Nah, angkot ini akan melewati Wonokromo, Bapak bisa naik angkot ini”.

Ketika menoleh ke samping tempat lelaki itu tadi berdiri, ia sudah tidak di tempatnya. Ternyata ia sudah bersusah payah lagi memikul anyaman-anyaman rotannya dan melanjutkan perjalanannya searah dengan arah angkutan itu.

Saya baru tersadar bahwa lelaki itu sedari tadi datang dengan berjalan kaki dan berhenti sekedar untuk beristirahat. Dia tidak berniat naik angkutan kota ataupun bis. Saya telah salah menunjukkannya angkutan yang bisa membawanya ke Wonokromo. Walau ongkos angkutan dengan jarak sedekat itu cuma dua ribu rupiah, lelaki itu lebih memilih untuk berjalan kaki di bawah panasnya terik matahari yang membakar.

Saya jadi berpikir betapa berharganya uang dua ribu rupiah bagi lelaki itu. Dari usahanya memikul itulah dia mendapatkan untung. Dan apabila dia naik angkutan, bisa jadi dia tidak mendapatkan untung sama sekali. Luar biasa perjuangan lelaki itu untuk menafkahi diri dan keluarganya. Bahkan untuk memperoleh rizki yang sudah ditetapkan oleh Allah, dia harus bersusah payah seperti itu. Saya yakin, Allah dengan pandangan sayang dan adil-Nya pasti akan mencatat jerih payah lelaki itu. Allah telah menciptakan daya pada diri kita. Lalu tergantung kitalah untk apa daya itu kita pergunakan. Dengan potensi memilih inilah menurut al-Maturidi manusia akan diberi ganjaran atau disiksa.

Lelaki itu telah hilang dari pandangan. Tapi saya masih terpaku memikirkan dialog singkat kami tadi. Sambil menunggu bis yang belum juga menunjukkan bentuknya yang panjang seperti balok, saya jadi teringat masa-masa kecil saya di kampung halaman, Rempung.

Rumah saya tepat berada di pinggir jalan negara yang menghubungkan ibukota provinsi dengan kota-kota kabupaten di pulau Sumbawa yang berada di sebelah timur pulau Lombok. Di sebelah barat desa saya ada dusun kecil bernama Penakak yang terkenal dengan kerajinan gerabahnya. Selain membuat barang-barang dari tanah liat yang bernilai tinggi yang siap dijual ke luar pulau atau untuk dijajakan pada para wisatawan asing yang bertandang ke Lombok, mereka juga membuat barang-barang gerabah yang dipasarkan untuk masyarakat lokal. Umumnya barang-barang yang mereka jual adalah seperti tungku tanah untuk memasak, cobek untuk membuat sambal dan berbagai peralatan dapur lainnya.

Tujuh kilometer di sebelah timur desa saya ada kota kecamatan Aikmal yang pasarnya cukup ramai. Di sanalah para pengrajin ini menjual sebagian barang-barang hasil kerajinan tangan mereka. Setiap selepas shalat subuh, akan terdengar iring-iringan orang Penakak memikul bertumpuk-tumpuk gerabah mereka. Ketika mereka berjalan, kayu bambu yang dipakai untuk memikul akan mengeluarkan suara khas menandakan betapa beratnya barang yang mereka bawa. Bambu-bambu itu mengeluh seolah-olah akan patah, tetapi daya elastisitasnya ternyata lebih kuat dari berat barang bawaan orang-orang Penakak itu. Mereka memilih membawa sendiri dagangan mereka karena di sanalah keuntungan mereka. Mereka terus berjalan ke arah timur menuju Aikmal seakan berlomba-lomba tak mau kalah dengan terbitnya matahari.

Dalam suasana seperti itulah, ibu dan ayah sesekali mempersilahkan mereka mampir ke rumah sekedar untuk beristirahat dengan suguhan kopi hangat, atau sesekali ibu dan ayah membeli jualan mereka. Ketika hendak berpisah dan akan melanjutkan perjalanan, tampak ada keceriaan yang tulus di wajah mereka. Ada rasa persaudaraan yang hangat sehangat suguhan kopi walaupun kami belum pernah saling kenal. Mungkin inilah indahnya memberi. Ada kebahagiaan tersendiri yang hadir memenuhi sanubari ketika kita bisa memberi. Benar, kita akan bahagia bila diberi sesuatu. Tetapi kebahagiaan menerima tidak akan bisa mengalahkan kebahagiaan memberi.

Pengalaman orang-orang penakak berjalan kaki membawa dagangan mereka ke pasar itu terjadi belasan tahun yang lalu. Kini, jalanan kampung saya, Rempung, di pagi hari tidak lagi diramaikan oleh iring-iringan orang Penakak itu. Entah apakah karena tungku tanah dan perbotan dapur dari tanah sudah tidak laku lagi di pasaran ataukah karena mereka lebih memilih naik angkutan? Entahlah.

Tetapi siang tadi, pengalaman yang saya saksikan belasan tahun yang lalu hadir lagi. Namun tidak di kampung saya, tapi di kota pahlawan, Surabaya. Di kota terbesar kedua di Indonesia ini, masih ada orang berjalan kaki untuk memperoleh rizkinya. Tidak muluk-muluk, cuma dua ribu rupiah, seharga ongkos angkutan. Bukan juga di tahun seribu sembilan ratusan, tapi di tahun dua ribu sembilan. Tepat dua hari setelah orang beramai-ramai membakar kembang api dan petasan yang harganya entah berapa kali lipat ongkos angkutan. Demi untuk menyambut pergantian tahun.

Maka dengan suara lirih saya ucapkan, selamat tahun baru..! (AFA)

Surabaya, 02012009

Advertisements

Komisi Hak Asasi Manusia di Indonesia dan Malaysia

Hampir 15 tahun Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menjalankan tugasnya menyelidiki, memantau dan memediasi permaslahan HAM di Indonesia. Dalam rentang waktu yang tidak singkat itu, Komnas HAM telah mewarnai perjalanan penegakan HAM. Perjalanan ini tidaklah ringan. Karena dengan segala keterbatasan wewenangnya, Komnas HAM dihadapkan pada setumpuk kasus pelanggaran HAM yang harus diselesaikan. Terlebih di tahun-tahun awal berdirinya, seperti umumnya di negara-negara berkembang, Komnas HAM harus berani melawan kekuatan rezim militer yang mengendalikan pemerintahan. Keadaan yang hampir sama juga dihadapi oleh Suruhanjaya Hak Asasi Manusia Malaysia (SUHAKAM), semacam komisi nasional dalam bidang HAM di Malaysia.

Hal inilah yang menarik perhatian Ken Setiawan, seorang peneliti pada Van Vollenhoven Institute, Universitas Leiden. Pada hari Kamis 27 Maret kemarin, bertempat di ruang pertemuan KITLV, Ken menyampaikan hasil sementara penelitiannya mengenai peran kedua institusi negara tersebut dalam penegakan HAM di Indonesia dan Malaysia.

Sejak tahun 1990, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyerukan tiap-tiap negara untuk membentuk komisi HAM. Langkah ini diambil karena undang-undang internasional tentang HAM yang sudah disahkan ternyata sangat sulit diterapkan pada tataran negara. Tiap-tiap negara memiliki penafsiran yang tidak sama terhadap HAM. Sejak saat itu, beberapa negara membentuk komisi HAM yang berada di bawah pengawasan pemerintah. Saat ini terdapat setidaknya seratus institusi negara yang menangani masalah HAM di seluruh dunia.

Pembentukan Komnas HAM pun merupakan salah satu bentuk tindak lanjut dari lokakarya tentang Hak Asasi Manusia yang diprakarsai Departemen Luar Negeri RI dan PBB yang diadakan di Jakarta pada 22 Januari 1991. Tak heran, ketika Komnas HAM akhirnya disahkan pada tanggal 7 Juni 1993 oleh Presiden Republik Indonesia, banyak pihak yang merasa pesimis dan menganggap ada agenda tersembunyi pihak asing dalam pembentukan Komnas HAM.

Menurut Ken, ada beberapa faktor yang menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat. Di antaranya, komisi ini dibentuk atas Keputusan Presiden Soeharto No. 50 Tahun 1993, yang kala itu juga menunjuk langsung mantan Jaksa Agung Ali Said untuk duduk sebagai ketuanya. Komisi ini juga dibentuk beberapa saat setelah terjadinya peristiwa berdarah di Liquisa, Timor Timur. Terlebih lagi, komisi ini dibentuk hanya seminggu setelah konferensi PBB di Vienna, Austria. Akhirnya banyak yang beranggapan bahwa Komnas HAM dibentuk hanya untuk menjawab kritikan dan sorotan dunia terhadap kasus pelanggaran HAM di Timor Timur.

Keraguan masyarakat akhirnya luntur setelah Komnas HAM mampu menyeleseikan kasus pelanggaran HAM di Timor Timur dengan membawa pelakunya ke pengadilan. Keberhasilan ini diikuti dengan pengusutan-pengusutan kasus lain saat itu seperti kasus pembunuhan Marsinah, aktivis buruh di Jawa Timur dan pelanggaran HAM di Timika, Papua. Dalam laporannya, Komnas HAM tak jarang menunjuk pemerintah dan militer sebagai pelaku pelanggaran HAM. Karena itu, komisi ini seringkali mendapat ancaman pembubaran dari pemerintah. Namun Komnas HAM tetap saja melakukan pengusutan demi pengusutan. Hal ini akhirnya semakin menerbitkan kepercayaan masyarakat.

Keberhasilan lainnya, tambah Ken, yaitu Komnas HAM mampu membuka dan memediasi dialog antar berbagai kelompok yang berbeda. Di antaranya, menjadi mediator antara PBB dan pemerintah dalam bidang HAM. Pernah beberapa kali Komnas HAM berhasil menyarankan pemerintah Indonesia untuk meratifikasi konvensi internasional. Adapun sosialisasi pada tataran masyarakat, dilakukan antara lain dengan pengadaan workshop, training dan penerbitan. Bahkan Komnas HAM dalam hal ini tercatat sebagai organisasi pertama yang memberikan pendidikan HAM di Indonesia.

Lebih jauh, Ken juga membicarakan dinamika internal Komnas HAM, mulai dari perubahan sistem pemilihan anggota komisi sampai dengan proses pengambilan kebijakan. Menurutnya, tidak jarang kebijakan yang dikeluarkan Komnas HAM lebih dipengaruhi oleh elemen masyarakat tertentu. Seperti dalam kasus Ahmadiyah, Komnas HAM mengecam pelaku tindakan anarki terhadap warga Ahmadiyah, tetapi Komnas HAM sama sekali tidak menyinggung lembaga yang mengeluarkan fatwa pelarangan Ahmadiyah.

Mengenai SUHAKAM, Ken menjelaskan bahwa lembaga ini lahir lebih untuk menjawab realita lokal Malaysia pada tahun 1999, khusunya kasus pelengseran Anwar Ibrahim, mantan deputi perdana menteri Malaysia. Walaupun institusi ini disahkan oleh raja Malaysia, namun institusi ini sangat kritis terhadap pemerintah. Melihat peran SUHAKAM yang tidak “menguntungkan” pemerintah, Mahathir Mohamad mengatakan bahwa SUHAKAM lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan luar. Ketika Mahatir memerintah, ia beberapa kali mengganti orang-orang yang dianggap kritis dalam struktur SUHAKAM. Pemecatan dan penggantian ini terus berlanjut pada tahun 2004 dan 2006 ketika Abdullah Badawi memerintah.

Bagaimanapun, Ken menilai bahwa SUHAKAM berhasil memperjuangkan HAM di Malaysia, walaupun itu masih dalam ruang lingkup yang terbatas. SUHAKAM lebih banyak bergerak pada isu-isu yang tidak kontroversial seperti dengan menanamkan pendidikan HAM di universitas-universitas Malaysia. Walaupun, mereka juga berhasil mengusut pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan polisi atau rela yang dipersenjatai. Ken menilai bahwa keberadaan SUHAKAM masih diremehkan pemerintah. Hal ini bisa dilihat dari rekomendasi-rekomendasi SUHAKAM yang jarang didengarkan pemerintah. SUHAKAM masih kurang berinisiatif untuk terus melobi dewan dan pemerintah agar menerima rekomendasi mereka.

Secara umum, Ken menilai bahwa baik Komnas HAM maupun SUHAKAM dalam posisi mereka yang berhadapan dengan negara semi-otoriter, telah mampu mengangkat kasus-kasus pelanggaran HAM berat ke ruang debat publik. Sejauh ini, apa yang telah dilakukan kedua komisi ini banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Di Malaysia, beberapa anggota SUHAKAM yang kritis diganti. Di Indonesia, kewenangan Komnas HAM seringkali dikebiri melalui politisasi prosedural hukum. Konsekuensinya, komisi-komisi ini agak selektif dalam memilih isu-isu HAM. Sejauh menyangkut konvensi HAM internasional, kedua komisi ini masih kesulitan menerapkannya pada konteks nasional Indonesia dan Malaysia. Bagaimanapun mereka telah turut andil dalam pembentukan civil society. (fathan)


Pertemuan Dengan Soroush

Oleh Ahmad Fathan Aniq

Sore itu (Selasa, 24 Juli 2007) saya bertemu Prof. Abdul Karim Soroush, seorang filosof liberal tapi bertasbih yang nama serta pemikirannya sudah saya kenal sejak di Indonesia. Terjemahan bukunya “Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama” yang diterbitkan Mizan diresensi di banyak surat kabar harian saat itu. Tak ayal, pemikiran Soroush pun menambah deretan bahan diskusi di kalangan mahasiswa. Beliau dianggap sebagai muslim pembaharu dan disejajarkan dengan para pemikir muslim kontemporer lainnya seperti Nasr Hamid Abu Zayd, Abid al-Jabiri, Muhammad Arkoun, Sayyid Hosein Nasr dll.

Mendengar kabar Soroush akan menyelesaikan penelitiannya di ISIM Leiden dalam waktu dekat, saya dan teman-teman segera membuat appointment dengan beliau. Paling tidak kami dapat bertatap muka dengan filosof dari Iran ini. Kalau dalam istilah pesantrennya sowan kepada kyai. Kami tentu tidak ingin kesempatan yang jarang dan tidak semua orang bisa mendapakannya ini berlalu begitu saja. Tapi tentu akan menjadi lucu kalau kami hanya bertemu, berjabat tangan, minta do’a lalu pamit pulang, selayaknya orang yang datang ngalap barokah. Setidaknya perlu ada dialog interaktif antara murid dengan guru.

Di sela-sela kesibukannya, Soroush menerima kami di ruang pertemuan ISIM. Saat itu beliau tampak begitu kebapakan dalam kebersahajaannya. Dengan mengenakan kaos biru berlengan panjang, beliau duduk dihadapan kami yang juga duduk melingkarinya.

Soroush membuka dialog dengan mengemukakan akan pentingnya mempertahankan identitas agama. Terlebih bagi umat Islam yang berada di negeri-negeri Barat. Menurutnya, agama adalah suatu pilihan rasional. Orang menjadi muslim adalah karena pilihannya. Dia bisa menentukan agama apa yang yang hendak diyakininya. Ini berbeda dengan status kebangsaan, warna kulit dan suku. Menjadi suatu bangsa tertentu bukanlah suatu pilihan. Ia adalah suatu yang taken for granted. Ketika kita lahir, maka sejak saat itulah kita menjadi warga bangsa dan suku tertentu. Oleh sebab itu, konsekuensi logis dari pilihan rasional itu adalah agar kita menjaga identitas itu.

Soroush termasuk salah seorang yang giat menekankan pentingnya membedakan antara agama dan pemahaman keagamaan. Agama menurutnya telah final, sedangkan pemahaman terhadap agama akan selalu berkembang. Pembedaan ini menjadi penting demi pmbaharuan agama. Ketika kita bisa membedakan mana agama, sebagian menyebutnya sebagai syariah, dan mana yang pemahaman keagamaan, disebut juga dengan fiqh, kita tidak akan mudah terjebak untuk selalu memfosilkan pemahaman-pemahaman tersebut. Pada waktu dan tempat tertentu, pemahaman agama yang terkadang dianggap agama itu sendiri dan akhirnya tidak berani diganggu gugat, bisa jadi sudah tidak relevan lagi. Karena itu, diperlukan selalu update penafsiran. Dengan mengetahui perbedaan antara agama dan pemahaman keagamaan setidaknya akan memberikan keberanian bagi kita untuk menggugat tafsir keagamaan.

Berhubungan dengan pemahaman keagamaan di atas, dalam kesempatan itu, saya menanyakan pendapat Soroush tentang ayat-ayat ilmiyah (scientific verses). Sebagian mufassir berusaha menyocok-nyocokkan berbagai kejadian alam ataupun penemuan ilmiah dengan ayat-ayat tertentu dalam al-Qur’an. Misalnya para ilmuan mengemukakan tesis bahwa langit itu tersusun dari tujuh lapisan, serta merta para mufassir menyatakan bahwa hal itu telah termaktub dalam al-Qur’an dengan kata-kata sab’a samawat. Cara penafsiran seperti ini menurut saya bisa menjadi mempersempit bahkan menyalahkan al-Qur’an itu sendiri. Bayangkan, bagaimana jikalau suatu saat ada tesis baru lagi yang membatalkan tesis pertama dan antitesis ini terbukti lebih valid secara ilmiah. Tentu penafsiran seperti tadi akan otomatis salah. Orang luar tentu akan memandang bahwa ternyata apa yang diungkapkan al-Qur’an itu salah. Ini akibat usaha penyocokan penemuan-penemuan ilmiah dengan al-Qur’an.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Soroush menyatakan bahwa dia tidak menanggapi penafisran tersebut secara serius. Menurutnya, fungsi utama kehadiran Islam adalah untuk memperbaiki moral. Oleh sebab itu, al-Qur’an diturunkan sebagai pembimbing moral (moral guidance). Al-Qur’an bukan kitab fisika, kimia ataupun farmasi. Jadi, terhadap ayat-ayat ataupun hadits-hadits yang ditafsirkan secara ilmiah hendaklah kita tidak menyikapinya secara serius. Soroush menambahkan, dalam Muqaddimahnya, Ibn Khaldun menyebutkan bahwa terdapat banyak hadits tentang ilmu-ilmu pengobatan dari Nabi Saw. Pernah Rasulullah Saw. ditanya oleh salah seorang sahabat tentang obat-obatan. Rasulullah Saw., menurut Soroush, beliau saat itu menjawab dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa, Innamaa ana basyarun mitslukum yuuha ilayya. Tugas utama para Rasul adalah sebagai sebagai pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan, wa ma narsilul mursaliin illa mubassyiriin wa munzariin. Mereka datang untuk memberitahu akibat baik dan buruk dari perbuatan manusia.

 

Tak terasa diskusi bersama Soroush saat itu telah berjalan selama satu setengah jam. Sebentar lagi mungkin kantor ISIM akan tutup. Akhirnya, Soroush sendiri yang menutup dialog itu. Pertemuan yang cukup mengesankan. Seperti umumnya para Profesor di Leiden, beliau tidak memposisikan diri layaknya “Guru Besar” di Indonesia yang terkesan selalu ingin dihormati. Dengan nama besarnya, Soroush tidak lantas memperbesar jarak dengan mahasiswanya.

 

Leiden, 25 July 2007