Sekitar dua jam sebelum azan Jumat dikumandangkan, suhu di Surabaya cukup panas menembus pori-pori kulit. Seorang paruh baya tampak begitu letih memikul anyaman-anyaman rotannya. Entah sudah berapa kilometer ia berjalan menyusuri A. Yani, jalanan utama kota Surabaya. Di bawah rindangnya pepohonan di depan Graha Pena Jawa Pos, tempat saya sengaja menunggu bis menuju Hi Tech Mall di Jalan Kusuma Bangsa, lelaki itu menyempatkan diri beristirahat melepas lelah. Ia duduk di sebaris tembok pendek yang membatasi sisi kali kecil yang airnya tidak jernih lagi. Anyaman rotannya yang menyerupai cincin-cincin raksasa itupun ia letakkan persis di depannya.

Menyadari ada saya di sampingnya, lelaki itu segera menghampiri saya dan bertanya.

“Mas, kalau kita mengikuti terus jalan ini, kita akan sampai dimana?”

Saya yang baru beberapa hari tinggal di Surabaya tidak lantas menjawab pertanyaan lelaki itu melainkan balik bertanya.

“Maaf Pak, memangnya tujuan Bapak kemana?”

“Ke Wonokromo, apa masih jauh dari sini?”

Karena mengetahui letak Wonokromo yang tidak begitu jauh dari Jalan Ahmad Yani tempat dimana Graha Pena Jawa Pos yang salah satu sisinya mirip seperti pena tegak berdiri, dengan yakin saya memberi tahu bahwa jaraknya sudah dekat. Sekitar lima menit naik angkutan. Tidak lama kemudian ada angkutan jurusan Joyoboyo lewat dan langsung saja saya menunjukkan Bapak itu, “Nah, angkot ini akan melewati Wonokromo, Bapak bisa naik angkot ini”.

Ketika menoleh ke samping tempat lelaki itu tadi berdiri, ia sudah tidak di tempatnya. Ternyata ia sudah bersusah payah lagi memikul anyaman-anyaman rotannya dan melanjutkan perjalanannya searah dengan arah angkutan itu.

Saya baru tersadar bahwa lelaki itu sedari tadi datang dengan berjalan kaki dan berhenti sekedar untuk beristirahat. Dia tidak berniat naik angkutan kota ataupun bis. Saya telah salah menunjukkannya angkutan yang bisa membawanya ke Wonokromo. Walau ongkos angkutan dengan jarak sedekat itu cuma dua ribu rupiah, lelaki itu lebih memilih untuk berjalan kaki di bawah panasnya terik matahari yang membakar.

Saya jadi berpikir betapa berharganya uang dua ribu rupiah bagi lelaki itu. Dari usahanya memikul itulah dia mendapatkan untung. Dan apabila dia naik angkutan, bisa jadi dia tidak mendapatkan untung sama sekali. Luar biasa perjuangan lelaki itu untuk menafkahi diri dan keluarganya. Bahkan untuk memperoleh rizki yang sudah ditetapkan oleh Allah, dia harus bersusah payah seperti itu. Saya yakin, Allah dengan pandangan sayang dan adil-Nya pasti akan mencatat jerih payah lelaki itu. Allah telah menciptakan daya pada diri kita. Lalu tergantung kitalah untk apa daya itu kita pergunakan. Dengan potensi memilih inilah menurut al-Maturidi manusia akan diberi ganjaran atau disiksa.

Lelaki itu telah hilang dari pandangan. Tapi saya masih terpaku memikirkan dialog singkat kami tadi. Sambil menunggu bis yang belum juga menunjukkan bentuknya yang panjang seperti balok, saya jadi teringat masa-masa kecil saya di kampung halaman, Rempung.

Rumah saya tepat berada di pinggir jalan negara yang menghubungkan ibukota provinsi dengan kota-kota kabupaten di pulau Sumbawa yang berada di sebelah timur pulau Lombok. Di sebelah barat desa saya ada dusun kecil bernama Penakak yang terkenal dengan kerajinan gerabahnya. Selain membuat barang-barang dari tanah liat yang bernilai tinggi yang siap dijual ke luar pulau atau untuk dijajakan pada para wisatawan asing yang bertandang ke Lombok, mereka juga membuat barang-barang gerabah yang dipasarkan untuk masyarakat lokal. Umumnya barang-barang yang mereka jual adalah seperti tungku tanah untuk memasak, cobek untuk membuat sambal dan berbagai peralatan dapur lainnya.

Tujuh kilometer di sebelah timur desa saya ada kota kecamatan Aikmal yang pasarnya cukup ramai. Di sanalah para pengrajin ini menjual sebagian barang-barang hasil kerajinan tangan mereka. Setiap selepas shalat subuh, akan terdengar iring-iringan orang Penakak memikul bertumpuk-tumpuk gerabah mereka. Ketika mereka berjalan, kayu bambu yang dipakai untuk memikul akan mengeluarkan suara khas menandakan betapa beratnya barang yang mereka bawa. Bambu-bambu itu mengeluh seolah-olah akan patah, tetapi daya elastisitasnya ternyata lebih kuat dari berat barang bawaan orang-orang Penakak itu. Mereka memilih membawa sendiri dagangan mereka karena di sanalah keuntungan mereka. Mereka terus berjalan ke arah timur menuju Aikmal seakan berlomba-lomba tak mau kalah dengan terbitnya matahari.

Dalam suasana seperti itulah, ibu dan ayah sesekali mempersilahkan mereka mampir ke rumah sekedar untuk beristirahat dengan suguhan kopi hangat, atau sesekali ibu dan ayah membeli jualan mereka. Ketika hendak berpisah dan akan melanjutkan perjalanan, tampak ada keceriaan yang tulus di wajah mereka. Ada rasa persaudaraan yang hangat sehangat suguhan kopi walaupun kami belum pernah saling kenal. Mungkin inilah indahnya memberi. Ada kebahagiaan tersendiri yang hadir memenuhi sanubari ketika kita bisa memberi. Benar, kita akan bahagia bila diberi sesuatu. Tetapi kebahagiaan menerima tidak akan bisa mengalahkan kebahagiaan memberi.

Pengalaman orang-orang penakak berjalan kaki membawa dagangan mereka ke pasar itu terjadi belasan tahun yang lalu. Kini, jalanan kampung saya, Rempung, di pagi hari tidak lagi diramaikan oleh iring-iringan orang Penakak itu. Entah apakah karena tungku tanah dan perbotan dapur dari tanah sudah tidak laku lagi di pasaran ataukah karena mereka lebih memilih naik angkutan? Entahlah.

Tetapi siang tadi, pengalaman yang saya saksikan belasan tahun yang lalu hadir lagi. Namun tidak di kampung saya, tapi di kota pahlawan, Surabaya. Di kota terbesar kedua di Indonesia ini, masih ada orang berjalan kaki untuk memperoleh rizkinya. Tidak muluk-muluk, cuma dua ribu rupiah, seharga ongkos angkutan. Bukan juga di tahun seribu sembilan ratusan, tapi di tahun dua ribu sembilan. Tepat dua hari setelah orang beramai-ramai membakar kembang api dan petasan yang harganya entah berapa kali lipat ongkos angkutan. Demi untuk menyambut pergantian tahun.

Maka dengan suara lirih saya ucapkan, selamat tahun baru..! (AFA)

Surabaya, 02012009