Oleh: Ahmad Fathan Aniq

Bulan Ramadhan telah berlalu dan tibalah kini hari raya Idul Fitri. Setiap kali Hari Raya tiba, umat Muslim selalu diliputi dua perasaan. Di satu sisi mereka bersedih karena harus berpisah dengan bulan yang sangat istimewa yaitu bulan Ramadhan. Bulan dimana Allah SWT. dengan ke-Mahapemurahan-Nya memberikan banyak bonus pahala ibadah dan dibukakan-Nya lebar-lebar pintu ampunan bagi hamba-Nya. Betapa banyak umat Muslim yang bersedih karena ditinggal bulan yang penuh kasih sayang Allah ini. Mereka merasa belum optimal menjalankan ibadah puasanya. Namun begitulah hari-hari terus berganti sesuai dengan hukum Allah. Yang bisa kita lakukan agar tidak termasuk orang merugi adalah dengan terus meningkatkan kualitas iman dan amal baik kita.

Di sisi lain, umat Muslim juga berbahagia, karena hari Idul Fitri atau lebaran yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Bagaimana tidak, ini karena Idul Fitri diyakini sebagai hari kemenangan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Kemenangan setelah sebulan lamanya kita mampu mengendalikan hawa nafsu. Idul Fitri juga bisa digambarkan sebagai hari kelulusan dari sekolah Ramadhan. Pada hari ini semua siswa yang telah mengikuti pelatihan dengan baik di sekolah Ramadhan akan berbahagia karena mereka lulus dengan predikat muttaquun (orang-orang yang bertaqwa).

Idul Fitri secara etimologi atau bahasa berarti “kembali berbuka”. Ini sekaligus meluruskan pemahaman kita selama ini yang mengartikan Idul Fitri dengan “kembali ke fitrah”. ‘Id berasal dari kata ‘aada yang berarti “kembali”, sedangkan al-fitr berasal dari akar kata fathara yang berarti “berbuka”. Selama ini al-fithr sering disamakan dengan al-fithrah yang memakai ta marbuthah yang berarti suci. Kedunya memang memiliki akar kata yang sama tetapi memiliki masdar yang berbeda (Lisaan al-‘Arab 5/55-59). Dalam teks hadits Nabi Saw., penyebutan Idul Fitri tidak menggunakan ta marbuthah. Jadi, secara bahasa Idul Fitri lebih tepat bila diartikan dengan kembali berbuka.

Namun bagaimanapun juga, dalam sejarahnya, Islam tidak terlahir dengan paradigma materialistik. Ditetapkannya hari raya Idul Fitri tentunya bukan sekedar untuk memenuhi hajat dan tuntutan perut. Jadi, terlalu sempit kalau mengartikan Idul Fitri semata-mata sebagai momentum untuk diperbolehkannya kembali makan dan minum. Tentunya ada makna yang lebih dalam dari Idul Fitri.

Dalam hal ini, ‘ulama ahli hikmah melihat ‘Idul Fitri dari kacamata filsafat. Mereka mengartikan ‘Idul Fitri sebagai kembalinya manusia dalam keadaan suci sebagaimana mereka baru dilahirkan setelah jiwa dan fisik mereka ditempa selama bulan Ramadhan. Pengertian ini sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai selama menjalankan ibadah puasa, yaitu menciptakan manusia yang bertaqwa. Ibadah puasa bagi umat Muslim merupakan sarana untuk penyucian diri sebelum akhirnya mencapai tujuan akhir puasa yaitu taqwa. Karena logika seperti inilah akhirnya pemaknaan ‘Idul Fitri sebagai hari kembali kepada kesucian menjadi kuat dan populer di masyarakat Indonesia.

Orang yang melaksanakan ibadah puasa dengan benar maka dosanya akan dihapuskan. Dari Abi Hurairah Ra, Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah mengampuni dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim). Dalam beberapa hadits juga dikatakan: “…bersih/suci bagaikan bayi yang baru dilahirkan”. Dengan Kasih Sayang-Nya, Allah mengampuni semua dosa hamba-Nya kepada-Nya. Yang tersisa tinggallah dosa sesama manusia. Untuk menghapus dosa ini tentu tidak cukup dengan memohon ampun kepada Allah SWT. Allah memerintahkan kita untuk meminta maaf dan memberi maaf kepada sesama manusia. Karena dalam menjalani hidup, kita tentunya teramat sering menuruti hawa nafsu dan menyakiti orang lain demi untuk mencapai ambisi-ambisi duniawi.

Teramat banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk saling memaafkan. Saling memaafkan inipun merupakan salah satu ciri orang-orang yang bertaqwa sebagaimana juga yang dicitakan oleh puasa. Allah SWT berfirman: “Dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Baqarah: 237). Dalam ayat yang lain Allah SWT juga berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran: 132-133).

Hari Raya ‘Idul Fitri menjadi momen yang tepat untuk saling memaafkan. Memang, Rasulullah Saw. mengajarkan kita untuk saling memaafkan sesegera mungkin setelah kita berbuat kesalahan. Tetapi terkadang hati dan mental kita belum siap untuk melakukannya. Meminta maaf dan memaafkan bukanlah perkara mudah. Oleh sebab itu, setelah menjalani pelatihan mengendalikan nafsu, umat Muslim diharapkan memiliki mental yang cukup kuat untuk saling memaafkan di Hari Raya ‘Idul Fitri. Jadi, saling memaafkan di hari ‘Idul Fitri seharusnya tidak sekedar menjadi ritual dan formalitas tanpa makna. Budaya saling memaafkan di Hari Raya ‘Idul Fitri atau biasa disebut halal bihalal kini menjadi tradisi positif di Indonesia.

Hal lain yang perlu ditegaskan kaitannya dengan ‘Idul Fitri sebagai simbol kemenangan setelah berpuasa adalah sejauh mana ibadah kita selama sebulan itu mampu meningkatkan kepekaan sosial kita. Inilah sebenarnya yang menjadi cita-cita luhur dari berpuasa. Disamping ibadah vertikal kepada Sang Khaliq, tidak kalah pentingnya juga kita dituntut beribadah secara horizontal. Dalam Surat al-Ma’un Allah SWT dengan gamblang menyebut mereka yang tidak memperdulikan anak yatim dan orang miskin –yang menjadi simbol sosial masyarakat- sebagai pendusta agama. Yatim dalam hal ini bukan saja anak yang ditinggal wafat bapaknya. Penafsiran seperti ini lebih dipengaruhi kondisi Timur Tengah dimana bapak menjadi tumpuan hidup. Yang lebih penting adalah adanya keterputusan antara seorang anak dengan tumpuan hidupnya. Dalam hal ini di Indonesia bisa kepada kedua-duanya antara bapak dan ibu.

Dalam ayat lanjutannya Allah bahkan mengancam mereka yang lalai dengan salatnya, yaitu celakalah bagi mereka yang salatnya tidak membawa efek sosial. Terlebih lagi mereka yang memamerkan kemewahannya di atas penderitaan orang lain dan enggan untuk memberikan bantuan. Akan sia-sia amal ibadah seseorang kalau hubungan horizontalnya dengan sesama manusia bermasalah.

Melalui momentum ‘Idul Fitri ini, sekali lagi marilah kita saling memaafkan dan membuka hati. Kita tumbuhkan jiwa dan rasa kepekaan sosial kita. Selamat ‘Idul Fitri, semoga Allah SWT. meridhai setiap detak dan gerak langkah kita. Amin. Kullu ‘am wa antum bi khairin. Ja’alana Allahu wa iyyakum minal ‘aidina wal faizina wal maqbulin.

Leiden, 12 Oktober 2007