Oleh Ahmad Fathan Aniq

Sore itu (Selasa, 24 Juli 2007) saya bertemu Prof. Abdul Karim Soroush, seorang filosof liberal tapi bertasbih yang nama serta pemikirannya sudah saya kenal sejak di Indonesia. Terjemahan bukunya “Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama” yang diterbitkan Mizan diresensi di banyak surat kabar harian saat itu. Tak ayal, pemikiran Soroush pun menambah deretan bahan diskusi di kalangan mahasiswa. Beliau dianggap sebagai muslim pembaharu dan disejajarkan dengan para pemikir muslim kontemporer lainnya seperti Nasr Hamid Abu Zayd, Abid al-Jabiri, Muhammad Arkoun, Sayyid Hosein Nasr dll.

Mendengar kabar Soroush akan menyelesaikan penelitiannya di ISIM Leiden dalam waktu dekat, saya dan teman-teman segera membuat appointment dengan beliau. Paling tidak kami dapat bertatap muka dengan filosof dari Iran ini. Kalau dalam istilah pesantrennya sowan kepada kyai. Kami tentu tidak ingin kesempatan yang jarang dan tidak semua orang bisa mendapakannya ini berlalu begitu saja. Tapi tentu akan menjadi lucu kalau kami hanya bertemu, berjabat tangan, minta do’a lalu pamit pulang, selayaknya orang yang datang ngalap barokah. Setidaknya perlu ada dialog interaktif antara murid dengan guru.

Di sela-sela kesibukannya, Soroush menerima kami di ruang pertemuan ISIM. Saat itu beliau tampak begitu kebapakan dalam kebersahajaannya. Dengan mengenakan kaos biru berlengan panjang, beliau duduk dihadapan kami yang juga duduk melingkarinya.

Soroush membuka dialog dengan mengemukakan akan pentingnya mempertahankan identitas agama. Terlebih bagi umat Islam yang berada di negeri-negeri Barat. Menurutnya, agama adalah suatu pilihan rasional. Orang menjadi muslim adalah karena pilihannya. Dia bisa menentukan agama apa yang yang hendak diyakininya. Ini berbeda dengan status kebangsaan, warna kulit dan suku. Menjadi suatu bangsa tertentu bukanlah suatu pilihan. Ia adalah suatu yang taken for granted. Ketika kita lahir, maka sejak saat itulah kita menjadi warga bangsa dan suku tertentu. Oleh sebab itu, konsekuensi logis dari pilihan rasional itu adalah agar kita menjaga identitas itu.

Soroush termasuk salah seorang yang giat menekankan pentingnya membedakan antara agama dan pemahaman keagamaan. Agama menurutnya telah final, sedangkan pemahaman terhadap agama akan selalu berkembang. Pembedaan ini menjadi penting demi pmbaharuan agama. Ketika kita bisa membedakan mana agama, sebagian menyebutnya sebagai syariah, dan mana yang pemahaman keagamaan, disebut juga dengan fiqh, kita tidak akan mudah terjebak untuk selalu memfosilkan pemahaman-pemahaman tersebut. Pada waktu dan tempat tertentu, pemahaman agama yang terkadang dianggap agama itu sendiri dan akhirnya tidak berani diganggu gugat, bisa jadi sudah tidak relevan lagi. Karena itu, diperlukan selalu update penafsiran. Dengan mengetahui perbedaan antara agama dan pemahaman keagamaan setidaknya akan memberikan keberanian bagi kita untuk menggugat tafsir keagamaan.

Berhubungan dengan pemahaman keagamaan di atas, dalam kesempatan itu, saya menanyakan pendapat Soroush tentang ayat-ayat ilmiyah (scientific verses). Sebagian mufassir berusaha menyocok-nyocokkan berbagai kejadian alam ataupun penemuan ilmiah dengan ayat-ayat tertentu dalam al-Qur’an. Misalnya para ilmuan mengemukakan tesis bahwa langit itu tersusun dari tujuh lapisan, serta merta para mufassir menyatakan bahwa hal itu telah termaktub dalam al-Qur’an dengan kata-kata sab’a samawat. Cara penafsiran seperti ini menurut saya bisa menjadi mempersempit bahkan menyalahkan al-Qur’an itu sendiri. Bayangkan, bagaimana jikalau suatu saat ada tesis baru lagi yang membatalkan tesis pertama dan antitesis ini terbukti lebih valid secara ilmiah. Tentu penafsiran seperti tadi akan otomatis salah. Orang luar tentu akan memandang bahwa ternyata apa yang diungkapkan al-Qur’an itu salah. Ini akibat usaha penyocokan penemuan-penemuan ilmiah dengan al-Qur’an.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Soroush menyatakan bahwa dia tidak menanggapi penafisran tersebut secara serius. Menurutnya, fungsi utama kehadiran Islam adalah untuk memperbaiki moral. Oleh sebab itu, al-Qur’an diturunkan sebagai pembimbing moral (moral guidance). Al-Qur’an bukan kitab fisika, kimia ataupun farmasi. Jadi, terhadap ayat-ayat ataupun hadits-hadits yang ditafsirkan secara ilmiah hendaklah kita tidak menyikapinya secara serius. Soroush menambahkan, dalam Muqaddimahnya, Ibn Khaldun menyebutkan bahwa terdapat banyak hadits tentang ilmu-ilmu pengobatan dari Nabi Saw. Pernah Rasulullah Saw. ditanya oleh salah seorang sahabat tentang obat-obatan. Rasulullah Saw., menurut Soroush, beliau saat itu menjawab dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa, Innamaa ana basyarun mitslukum yuuha ilayya. Tugas utama para Rasul adalah sebagai sebagai pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan, wa ma narsilul mursaliin illa mubassyiriin wa munzariin. Mereka datang untuk memberitahu akibat baik dan buruk dari perbuatan manusia.

 

Tak terasa diskusi bersama Soroush saat itu telah berjalan selama satu setengah jam. Sebentar lagi mungkin kantor ISIM akan tutup. Akhirnya, Soroush sendiri yang menutup dialog itu. Pertemuan yang cukup mengesankan. Seperti umumnya para Profesor di Leiden, beliau tidak memposisikan diri layaknya “Guru Besar” di Indonesia yang terkesan selalu ingin dihormati. Dengan nama besarnya, Soroush tidak lantas memperbesar jarak dengan mahasiswanya.

 

Leiden, 25 July 2007