Oleh: Ahmad Fathan Aniq

Pemilu Raya Kampus 2004 sebentar lagi digelar. Parpol-parpol kampus peserta pemilu tengah bersiap menyolidkan barisan. Musyawarah, kongres dan konvensi untuk mengganti pengurus partai dilakukan, mulai dari tingkat Dewan Perwakilan Daerah (jurusan), Dewan Perwakilan Wilayah (fakultas) dan Dewan Perwakilan Pusat (universitas). Usai pergantian pengurus dengan ketua partai yang baru, partai akan memilih kader terbaiknya untuk duduk di kursi kepresidenan.

Kesibukan menjelang pemilu tidak hanya terjadi dalam tubuh partai saja. DPMU (DPR-nya kampus) juga membentuk Panitia Pemilihan Umum (PPU) – KPU-nya kampus. Selanjutnya, PPU inilah yang akan menyusun dan menggodok mekanisme Pemilu Raya Kampus.

Sistem perpolitikan kampus merupakan miniatur sistem perpolitikan di negara kita. Ada lembaga eksekutif, legislatif, partai-partai dan ada KPU. Ini merupakan pembelajaran politik bagi mahasiswa. Tetapi seberapa besarkah perhatian mahasiswa terhadap perpolitikan kampus?

Ternyata, mahasiswa yang menaruh perhatiannya adalah mereka yang aktif dalam organ-organ kampus, baik ekstra maupun intra. Mereka yang kurang ngeh terhadap perpolitikan kampus biasanya disebut sebagai The Floating Mass atau massa mengambang dan mereka inilah massa terbesar dalam kampus ini.

Biasanya, apologi mereka tidak menyelami perpolitikan kampus adalah bahwa politik adalah dunia ‘hitam’ dan kejam, sikat sana sikut sini, yang penting usaha sampai. Apologi teman-teman kita ini memang tidak salah dan tidak pula sepenuhnya benar. Apa yang mereka khawatirkan memang ada dan kerap terjadi. Tetapi itu semua kembali kepada kita, bagaimana kita bisa menyikapinya dengan benar dan bijaksana, syukur-syukur kalau kita bisa merubahnya.

Manusia, menurut Aristoteles, adalah zon politicon. Apapun tindakan manusia tidak akan lepas dari nilai politik. Sikap untuk tidak berpolitikpun merupakan tindakan politis. Bagaimana tidak, sikap netral (golput) tentu akan menciptakan kelas baru yang secara tidak langsung diakui keberadaannya. Apapun tindakan anda, anda tetap berpolitik. So, apa salahnya kita ikut berpartisipasi dalam pemilu kampus dengan mengambil peran di dalamnya? Itung-itung cari pengalaman dan pembelajaran. Siapa tahu, besok ada yang nawarin jadi caleg, atau minimal bisa cas-cis-cus mengomentari berita di depan TV. Kan itu lebih baik dari pada jadi orang kuper.

Memilih Pemimpin

Thomas Aquinas, seorang tokoh pengagum Aristoteles abad ke-13 meniscayakan adanya segolongan orang yang menjadi pemimpin. Manusia menurutnya berada pada posisi yang sederajat sejak dilahirkan. Kesamaan derajat itu berkonotasi teologis dalam arti bahwa manusia sederajat di hadapan Tuhan. Di sisi lain manusia jelas memiliki perbedaan. Sebagian manusia memiliki kelebihan dari manusia lain dalam kekuatan fisik, kemampuan mengetahui kebajikan dan kebenaran serta potensi-potensi lain yang belum tentu dimiliki orang lain.

Berdasarkan premis itu, Thomas berkesimpulan bahwa kebanyakan manusia harus menerima kepemimpinan manusia yang memiliki kelebihan-kelebihan itu. Melalui merekalah nilai-nilai kehidupan yang baik dapat ditransmisikan kepada orang lain.

Salah satu agenda dari pemilu kampus mendatang adalah memilih presiden-presiden baru yang akan memimpin jurusan, fakutas dan universitas. Pemilihan presiden ini menjadi begitu penting, mengingat di pundak merekalah dibebankan sebuah faktor kemajuan jurusan, fakultas dan universitas beserta person-personnya.

Maka, dalam pemilihan presiden pada Pemilu Raya Kampus mendatang, para mahasiswa diharapkan benar-benar menyeleksi orang yang akan menjadi pemimpin mereka. Tidak hanya dengan ikut-ikutan memilih atau membeo karena perintah dari orang yang mereka percayai. Tetapi, dengan benar-benar mengenal kepribadian calon pemimpin mereka. Atau, sebagaimana konsep Thomas yaitu dengan memberi kesempatan kepada orang-orang yang mempunyai kelebihan untuk memimpin kita.

Dari konsep Thomas Aquinas di atas, bisa kita tarik benang merah dengan konsep Hobbes, John Locke dan Rousseau tentang manusia dalam keadaan alamiah. Manusia, menurut mereka, dalam keadaan alamiah tidak memiliki kaidah, hukum, negara dan juga pemimpin. Maka, untuk mengatur kehidupan mereka, manusia alamiah membuat kontrak sosial untuk membentuk suatu negara hukum dan menentukan pemimpinnya.

Yang ingin saya tegaskan di sini adalah ketika manusia alamiah menentukan pemimpinnya. Manusia alamiah memilih pemimpin mereka tanpa ada tekanan politik, sentimen ataupun emosional yang mempengaruhi mereka untuk menentukan pilihan. Mereka memilih pemimpin semata-mata dengan melihat kemampuan dan talenta calon pemimpin. Mereka memilih pemimpin dengan rasionya.

Konsep manusia alamiah di atas memang hanya sebuah hipotesis dan (hampir) tidak ada.

Maka, apakah mungkin cara memilih pemimpin seperti manusia alamiah di atas diterapkan dalam pemilihan kampus mendatang? Pengambilan keputusan sekarang ini serba dipengaruhi oleh sentimen-sentimen (kelompok) dan kepentingan. Maka, saya kira sulit atau bahkan tidak mungkin bagi orang-orang yang ‘berkepentingan’ untuk menentukan pilihan mereka seperti manusia alamiah. Tetapi, saya kira masih mungkin bagi the floating mass.

Jadi, bagaimana kalau the floating mass menentukan pilihan mereka seperti konsep manusia alamiah di atas?

Ciputat, Mei 2004

Tulisan ini saya tulis ketika mulai maraknya pemilu raya kampus UIN Syahid 2004. Dimuat di buletin kecil dwi mingguan “Paradoks”.