Oleh: Ahmad Fathan Aniq

Perdebatan antara harus mendahulukan nalar (baca: ahl ar-ra’y/liberal) atau mendahulukan wahyu (baca: ahl al-hadis/literal) dalam menyikapi suatu fenomena sosial yang muncul merupakan perdebatan klasik. Hampir sama tuanya dengan kehadiran Islam itu sendiri, walaupun kadar intensitas perdebatan tidak sama pada setiap generasi.
Pada fase sahabat misalnya, Umar bin al-Khaţţab ra. lebih mengedepankan pengamatan realitas sosial ketimbang formalitas teks ajaran. Ide pembukuan Alquran, enggan menjatuhkan hukuman potong tangan dan contoh-contoh sejenisnya dapat ditangkap sebagai cermin pemikiran sahabat Umar yang liberal. Di lain pihak, pola pemikiran literal juga menjadi trade mark para sahabat yang lain saat itu, seperti Abu Bakar aş-Şiddiq ra., Abdullah ibn Mas‘ud ra., dan lain-lain.
Pada fase tabi‘in, kubu ahl al-ra’y diwakili oleh ‘Alqamah an-Nakha’i di Irak, sedangkan kubu ahl al-hadis diwakili oleh Sa‘id bin al-Musayyab di Madinah. Pada fase imam mazhab, adalah Imam Abu Hanifah bin Nu‘man yang mendahulukan nalar dengan menggunakan pendekatan analogi (qiyās) cukup banyak dalam mekanisme penetapan hukum dibanding imam-imam mazhab lainnya. Sementara itu Imam Malik bin Anas yang banyak menyerap tradisi ulama Madinah lebih mengedepankan pola pikir literal dalam melestarikan pengembangan hukum dalam mazhab yang dibinanya.
Penyekatan seperti ini terus berlanjut hingga fase dimana Muktazilah dicap sebagai ahl ar-ra’y dan Asy’ariah sebagai ahl al-hadis. Perbedaan ini sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan jika kita garisbawahi sudut pandang masing-masing dalam melihat realitas. Muktazilah misalnya, memandang segala bentuk persoalan dikembalikan kepada akal karena mereka membidik persoalan realitas ini dalam perspektif tujuan akhir (ending) dari segala proses penciptaan. Sebaliknya, Asy’ariah memandang realitas hidup menurut sudut pandang kehambaan seorang mukalaf yang mesti patuh kepada Zat Pencipta yang maha tidak membutuhkan segala ciptaan-Nya.
Pada kenyataannya, nalar dan wahyu mempunyai hubungan interelasi dalam proses pencarian kebenaran yang nisbi mendekati kebenaran mutlak yang hanya dimiliki yang Maha Kuasa, khususnya dalam upaya merumuskan aturan-aturan syariat untuk menjembatani hubungan hamba dengan Khalik (Pencipta)-nya. Dalam proses pencarian kebenaran seperti inilah lalu terjadi perdebatan sengit bagaimana mengidealkan komposisi nalar dan teks-teks wahyu dalam pergumulan realitas sehari-hari.
Menyikapi interelasi nalar dengan wahyu inilah, buku karya Abu Yasid ini hadir ke hadapan pembaca. Tetapi tidak hanya interelasi dua domein itu saja yang menjadi bahasan dalam buku ini. Wahyu yang dalam bahasa Nasr Hamid Abu Zaid disebut teks, diinterelasikan juga dengan teks yang lain yaitu hadis Nabi saw.. Begitu juga teks dengan realitas, teks dengan syari’at, dan teks dengan maslahah. Semuanya tersaji dengan apik dan lengkap.
Setelah pada bab kedua Abu Yasid membicarakan hubungan nalar dengan teks, pada bab-bab berikutnya secara tidak langsung Abu Yasid memposisikan diri sebagai orang yang memberikan porsi yang lebih bagi nalar untuk berijtihad dalam teks-teks yang zhanny ad-dilalah. Hal ini bisa kita temukan ketika Abu Yasid yang juga asisten direktur Pasca Sarjana IAII Situbondo ini berbicara tentang interelasi teks dengan syariat dan interelasi teks dengan maslahah.
Ketika berbicara tentang masalah poligami contohnya, Abu Yasid justru melihat teks yang ada sesungguhnya lahir dalam rangka membebaskan diri dari tradisi masyarakat Arab jahiliyah berpoligami. Abu Yasid lebih melihat kepada semangat syariat dari teks yang bukan ditujukan pada batasan maksimal poligami, melainkan anjuran bersikap adil dalam berpoligami.
Membaca buku ini, memberikan kita motivasi tersendiri agar berani memberi arti dan mencari jalan keluar terhadap setiap masalah yang ada. Dengan berpedoman kepada teks yang dimediasi nalar dan dengan memperhatikan konteks permasalahan, akan menuntun kita untuk dapat menemukan maslahah dalam setiap permasalahan. Abu Yasid dengan bukunya ini seakan selalu mengingatkan kita agar jangan takut berijtihad. Sebab Rasulullah saw. pun telah bersabda: ”Jika seorang Hakim melakukan ijtihad lalu hasil ijtihadnya benar maka dia mendapatkan dua pahala. Sebaliknya, jika hasil ijtihadnya keliru maka dia hanya mendapatkan satu pahala.” (H.R. Imam Muslim).

Ciputat, 17 April 2006

Tulisan ini adalah draft sinopsis buku “Interelasi Nalar dan Wahyu” karya Dr. Abu Yasid.