Oleh: Ahmad Fathan Aniq

Sebulan yang lalu, ketika Ujian Akhir Semerter (UAS) untuk tingkat satu dan dua Fakultas Dirasat Islamiyah telah usai, dan kebanyakan dari mereka sudah enggan untuk kembali lagi ke kampus kecuali hanya beberapa orang saja yang iseng-iseng melihat nilai UAS yang sudah keluar dan dipampang di papan-papan pengumuman, bahkan sebagian lagi ada yang sudah pulang ke kampung halaman atau keluar dari kawasan Ciputat. Saat itulah berita tentang “durian runtuh” (beasiswa) yang tidak jelas juntrung-nya itu tersebar di kalangan sendiri. Tidak banyak yang tahu, hanya untuk kalangan sendiri! Ssst, rahasia!

Apakah ini salah satu taktik agar keberadaan durian runtuh itu tidak sampai tercium oleh orang lain di luar kalangan sehingga pembagian durian tetap dengan buah-buah yang besar? Ah, itu saya tidak tahu. Tapi dasar, bagaimanapun rapinya buah itu disembunyikan, yang namanya durian tetap saja ketahuan. Yang menjadi pertanyaan juga di mana durian itu jatuh, dan untuk siapa? Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada pihak Dekanat, tidak ada jawaban yang memuaskan atau yang dianggap cukup untuk mendapatkan nilai A pada mata kuliah keadilan.

Mengapa tingkat I dan II begitu getol mengungkap kasus durian ini? Apakah mereka ingin makan durian juga? Inti permasalahan sebenarnya bukan pada kebagian dan tidak kebagian (baca: dapat bagian dan tidak dapat bagian) buah ajaib itu, kalau hanya sekedar untuk mendapatkan buah seperti itu saya kira orang tua sobat-sobat FDI masih sanggup mengirimkannya, tetapi permasalahan yang lebih urgen adalah ada indikasi hilangnya hati nurani orang-orang yang memegang durian ini.

Durian yang menurut riwayat berjumlah 100 buah (baca: 100 jeti) ini, setelah mengalami penyusutan-penyusutan tinggal 85 buah, dan konon cerita berasal dari Depag, pada awalnya hanya untuk didistribusikan kepada seratus mahasiswa FDI dan Depag tidak memberikan kriteria penerimanya. Permasalahan mulai muncul ketika orang yang diamanati untuk mendistribusikan durian ini, hanya membagikannya kepada tingkat III dan IV saja tanpa menghiraukan tingkat dibawahnya. Alasannya sederhana saja, bahwa tingkat I dan II belum tahu apa-apa dan pembagian durian hanya kepada tingkat “tua” ini sudah menjadi tradisi. Mungkin alasan yang terakhir ini bisa diterima, tapi ingat!, durian runtuh ini bukan durian yang jatuh tiap tahun. Atas dasar apa mereka berani menjamin bahwa tahun depan akan ada durian runtuh lagi?

Permasalahan ini secara langsung maupun tidak, akan berdampak kepada timbulnya cakar-cakaran di Dirasat sendiri. Masing-masing membawa ego angkatannya dan setiap ada isu durian jatuh, maka ego angkatan lagi-lagi akan dikedepankan dengan merasa bahwa angkatan merekalah yang paling berhak dengan durian runtuh. Pihak Dekanat sebagai distributor seharusnya “cerdas” menyikapi hal ini, mereka setidaknya mulai berani meninggalkan tradisi-tradisi cari untung dan nggak mau repot. Mulailah belajar menerapkan nilai-nilai keadilan dalam pengambilan keputusan.

Tradisi makan durian per-angkatan ini kalau tidak dibereskan mulai sekarang maka ia akan menjadi mata rantai yang panjang. Dan sepanjang mata rantai itulah keadilan dan hati nurani akan terus digadaikan. Ironis, Dirasat yang tinggal memiliki kebanggaan satu-satunya sebagai fakultas yang paling islami di lingkungan UIN justru di dalamnya berbau busuk. Haruskah kata-kata “malu aku menjadi mahasiswa Dirasat” keluar dari mulut mahasiswa FDI yang konon fakultas program inter-nasional ini? Alangkah bijaknya kalau durian runtuh ini disalurkan kepada para mahasiswa yang tidak pernah mencicipi durian (baca: kurang mampu), atau kepada para mahasiswa yang memiliki prestasi di kelasnya. Atau lagi-lagi kalau memang nggak mau repot bagi rata saja. Adil kan?

Ciputat, Maret 2004

Tulisan ini saya tulis ketika duduk di smt IV UIN Syahid. Dimuat di buletin kecil dwi mingguan “Paradoks”. Isi tulisan menyoal tentang “ketidakjelasan” dana beasiswa di FDI.