Born on 7 January 1984 in Selong, a small city in East Lombok, he was named Ahmad Fathan Aniq. He grew up in a small village in Rempung until he was 13, when he finally decided to continue his study at an Islamic boarding school or pondok pesantren in another administrative area. He is the first son in his family. Therefore his name is “Fathan”.
In 1996, his parents sent him to study at pondok pesantren Nurul Haramain which is located in Narmada, West Lombok. Here, for the first time, he learned English and Arabic. His teachers often told him that by mastering Arabic, he would understand Islam and by mastering English he would conquer the world since English is the international language. Aniq only studied for three years in Nurul Haramain, then he continued his study in Jombang, East Java.
Jombang is the city which his parents chose after he had finished his study in Nurul Haramain. It is located in East Java, far from his village. He had to pass Bali Island to reach this city and it takes 24 hours to go there by bus from Lombok. He chose Tambakberas as his pesantren in Jombang as it is a traditional pesantren. Aniq studied there for three years and he was graduated in 2002.
To study at a renowned university had been his plan since childhood. So, he registered at the State Islamic University (UIN) Jakarta. The Dirasat Islamiya Faculty was his choice, because the study in this faculty is conducted in the Arabic language. Finally he was graduated from UIN Jakarta in July 2006 and wrote a thesis about maqashid as-syariah and its affect on istinbath of Islamic laws, written in Arabic.
Immediately after graduating with a Bachelor’s degree from UIN Jakarta, he continued to study for a Master’s degree at the same university. He concentrated on Syariah,
however he had been there for just two months when he was accepted for the Program Pembibitan Alumni PTAI se-Indonesia or upgrading programme for the graduates of Islamic universities in Indonesia. The programme was sponsored by the Ministry of Religious Affairs of Indonesia (MORA). The aim of the programme itself is to provide the young muslim generation with general Islamic thought and with the languages of both English and Arabic.
From the MORA programme, he got the information about the scholarship for MA at Leiden University. He was interested because it had been his plan to study abroad, so he applied for the registration. Allah is Generous and Kind, he was accepted. Just a week after the acceptance announcement, Aniq and eleven of his friends left for the Netherlands.
There are many of his friends who asked him why he chose to study Islam in the West. His reply to this question, is that he wanted to look for another approach to Islamic studies. Well he thinks he has found the answer as to why he should study Islamic studies at Leiden University.
This is my short life story.
(Ahmad Fathan Aniq)
i was interested in reading your auto biography. i beleive that the Lombikists are able to conquer the universe. and you have to proof that. so i have to.
fathan…good luck for you. when delivering your notebook with sutawan indrayadi to your house was the first and the last time i saw you. that was the good time.
say to the world that we (indonesians) have the capability to be more than them (outsider).
Thx u 4 ur appreciation, Adi. I still remember the time u went to my home. but why did you say that it was the last time? nice 2 meet u
Dear my friend,
Look at this “until 13th years of “. Is there any errors? I think yes.
Yours,
D
Thanks for your critique. I will check out my writing errors.
Assalamualaikum wr.wb
salam kenal dari warga rempung di yogyakarta.Meluk kabar token insok?moga tetap istiqomah dijalan Allah amin..
Salam.. Slm knal jg. Sai siao? oken jgja su kuliah emek?
Oalah, di Leiden to….
kerennnnn…
Ass. Kaifahal Akhi…
Ana turut senang dan bangga ada putra daerah kita bsa berprestasi seperti antum. Semoga qalbu senantiasa istiqomah dalam hidayah dan Ridha-Nya. Terus berjuang akhi
Wassalam
ass.
g sengaja liat web tulisan fathananiq… bacroundnya kayak bukan di Lombok, habis dari dirasah mang kemana mantan Ketum Komfakdish?
doain aku selesai november 2007 wisuda’e…
bis itu cari beaseiswa..
Oce
salam dari Amar palu
Salam kenal mas Fathan… terima kasih dah mampir di Blog PMII-NTB dan Lintas Musim.
BTW, Bagaimana keadaan di sana? Semoga suatu saat kita bisa ketemu dan berbuat bersama di Lotim.
Thank’s.
Salam kenal semethon! semoga masih bisa bahasa lombok yach…
Makasi dah mampir ke blog tiang….salut buat side!!! semoga kita-kita yang muda ini bisa segera mengikutii…
PMII Pindah URL ke sini, http://ntb.pmii.or.id
Link dong…
nice, i used to learn arabic once….but then gave up when realizing that it’s quite difficult language…then i quit
but now, i’m trying to get arabic course in jkt, but found no result, since i’m only looking for weekend class
so sad…
anyway, salam kenal..
brilliant, young and talented!!..Keep going..
Nisa, Jepang
Salam ‘alaikum ya akh karim. Saya senang sekali bisa tahu profil mas fathan. Nama saya agiel. Kemaren sy dpt tawaran studi s2 Isamic studies di leiden. Saya sgt tertarik untuk bisa “mengikuti jejak” mas. Sekarang lagi proses melengkapi aplikasi-nya. Mohon tips buat bisa lulus seleksi dan diterima di leiden. Just replay to my email. And I hope we can keep the relationship, forever.
Subhanallah, sirik euy…
Salam
Halo Mas Fathan. Apa kbr?
Lama ga kontakan…
Mas makasih suggest-nya alhamdulillah ada kabar baik. Aku kirim email ke Mas Fathan… aku tunggu repaly-nya ya…
Jazkallah ahsan,-
pastinya dong, fat…. daripada artikel yang kita bikin ga dimuat di media?! ngendog di komputer… lama dibiarin bisa jadi virus…
jika ide dan gagasan kita ga “menarik” media massa untuk mempublikasikannya, apalagi media yang bisa mempublikasikan ide kita selain blog?! ya, ngga…
tulisan sampeyan juga bagus mas, saya sendiri belum bisa menulis hal-hal yang menyangkut kepentingan umum, salut untuk kamu, tulisan saya hanya sebatas ungkapan perasaan atas pengalaman yang ada…hehhe…tidak sebagus tulisan kamu. apa lagi mas sudah menulis dengan bahasa ingris, mantep banget..:D
iya saya memang anak maqodam, angkatan 2001, saya juga pernah di pare, tapi tidak lama kok kira-kira cuma satu bulan.
saya juga agak-agak ingat sampeyan, salut ya untuk mas, bisa ke nedherlan…ingin rasanya pergi ke negeri annelis yang penuh kincir angin ini.
Mampir juluq semeton…
semoga sukses slalu..
milu mampir semeton absen kance batur batur sasak…
nice post out there
maaaaaaaaaaaas gmn kbrnya aku skrang di smg tmpt abah
Wey…..alhamdulillah, satu aku nemuin kembali temen ku, dah lama juga gak bertemeu. ya walo hanya di dunia maya juga gak papa yang penting silaturrohmi terjaga beserta doa’a. kabarkan kepadaku tentang semua petunjuk Allah yang telah kau peroleh. dan kabarkan pula kepada semua rekan kita….. salam…..
Aslm..
Hmm..
pernah membaca beberapa tulisan anda..
tentang kehidupan sosial..
Anak Bangsa Yg Baik..
well..
Tanah air menunggu mu Pulang..
Oya..
Jika keberadaan anda adalah The Miraccle..
maka Smg Kembali nya anda pada Bangsa pun membawa The Miraccle..
Salam..
Mendengar ttg anda pertama kali dari org dekat sy..
“ttg seOrang teman yg Bermimpi Belajar di Negri Tulip..
Lalu trCapai melalui satu KeAjaiban yg di Desain TUHAN..”
lalu sy di[perkenal kan pd satu Halaman Web dan menemui beberapa tulisan mu ttg Kehidupan Negri trCinta..
Kritis..!!
Berani..!!
Well..
Segeralah Kembali utk Tanah Air membawa KeAjaiban yg di Titip TUHAN lwt Tangan mu..
Salam..!!
assalamualaikum…
miq tiang mintaizin ngelink gih …
silak Miq Warid. Maaf, blognya ga pernah dirawat. terima kasih dah mampir..
Minal Aidin Walfaizin miq…
selamat hari raya idul adha..
Senang bisa mampir di blog kawan lama.
Makin sukses aja ya bro… ^_^
kang sibuk apa? minta alamat blog dan email senior2 dong.
ahmadromzie@gmail.com
Salam,
Nice to find your blog and read your writing.
Good luck
John (Abdul Wahid)