Freedom of Expression

On Jan. 1, again we heard news about the alleged attempt to kill the Danish political cartoonist, Kurt Westergaard, known for his controversial depictions of the Prophet Muhammad. The Jakarta Post on Jan. 3 reported the assailant was shot by Danish police officers. Furthermore, Danish intelligence officials said the suspect was connected to al-Shabaab, al-Qaeda’s ally in East Africa.

Many Muslims have been offended by the Danish prophet cartoons. We remember the case on Sept. 30 2005 when Jyllands-Posten, the biggest Denmark daily newspaper, published 12 cartoons, which were claimed as the cartoons of the prophet. In Islam, it is taboo to depict the prophet.

Two months after the cartoons were published; there were no big reactions from Muslim societies. However, in Dec, 2005 after the Islamic Conference Organization announced its resistance to the cartoons, and the cartoons were published again in newspapers in various countries, there was a strong reaction from Muslims. They burnt flags of Denmark as a symbol of their disappointment.

I disagree with the strong reactions from Muslim societies over the cartoons. Such reactions in fact strengthened the stereotype of vicious faces of Muslims that were illustrated through the Danish cartoons. Muslims should have looked for other more rational ways to express their disagreement and disappointment with the cartoons.

Of course the cartoons were offensive, but Muslims should not have reacted so strongly to the issue. The prophet himself never acted coercively to achieve his aims. The famous story that illustrates this is when he was thrown by the Thaif people until he was injured while he was trying to deliver a da’wa or invitation to the religion of Islam. It was told that the angel Gabriel was very angry with the Thaif people’s attitude toward the prophet.

Then, when the prophet was thirsty, Gabriel came and said that if the prophet allowed him, he would throw the Thaif people off the Uhud mount. Nevertheless, the prophet answered that he was there not to damage the people, but to show them guidance. Then the prophet prayed, “Oh God, guide my community since they do not know guidance”.

Furthermore, the Danish government and the Jylland Posten crew argue that what the cartoonist did was right as it was justified by the freedom of expression. For me, this is the wrong way to define the freedom of expression. For them, as I understand, the freedom of expression means unlimited freedom and allows everyone to express themselves without limitation.

This is what I disagree with. Freedom for me is freedom with a responsibility. It means that our freedom is socially limited by other people’s freedom. Everybody may express his opinion as long as it does not hurt other people.

To freely express our opinions and hurt other people at the same time is irresponsible. So the freedom that harms other people’s freedom cannot be called freedom; it is oppression.

Ahmad Fathan Aniq
The Jakarta Post, January 23, 2010

Teori Paradigma Sebagai Perangkat Berfikir dalam Perumusan Kebijakan

Oleh : Ahmad Fathan Aniq

Judul : Paradigm Theory and Policy Making; Reconfiguring the Future
Penulis : Akira Iida
Penerbit : Tuttle Publishing, Tokyo, 2004
Tebal : 160 halaman

Baru-baru ini telah diadakan World Islamic Economic Forum (WIEF) kelima yang berlangsung selama dua hari pada 2-3 Maret 2009 di Jakarta. Sejumlah 38 negara –berpenduduk- Muslim turut ambil bagian dalam forum ini. Dalam menghadapi krisis finansial global belakangan ini, kerjasama ekonomi antar negara sekawasan atau seideologi seperti ini akan menjadi sangat penting. Terlebih di tengah-tengah tata perekonomian dunia yang timpang dan dirasakan semakin tidak adil. Ada apa di balik fenomena ini? Mengapa banyak negara yang merasa tidak diuntungkan dengan sistem ekonomi dan politik dunia yang ada? Apa yang salah dengan paradigma yang dianut saat ini? Pertanyaan sepintas ini mungkin bisa kita temukan jawabannya dalam buku karya Akira Iida yang bertajuk “Paradigm Theory and Policy Making, Reconfiguring the Future”.

Ketika menulis buku ini, Akira Iidia merupakan seorang profesor dan dosen kebijakan ekonomi di College of Law, Nihon University. Sebelumnya, ia menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai pegawai negeri yang bertugas untuk membuat kebijakan publik baik di agen-agen nasional Jepang ataupun di agen-agen internasional. Di saat itulah ia menemukan banyak sekali ketidaksesuaian antara apa yang ada dalam teori ekonomi dan apa yang terjadi dalam praktek pembuatan kebijakan. Maka, melalui sudut pandang seorang praktisi inilah, ia menulis kegelisahannya.

Buku ini tidak membahas secara khusus dan mengkaji suatu masalah dari disiplin keilmuan tertentu. Buku ini bukanlah buku ekonomi, ilmu politik, sosiologi, sejarah, filsafat ataupun studi kebudayaan. Tetapi ia mencakup berbagai isu dan menjangkau semua disiplin keilmuan di atas yang dalam dunia praktis pasti dihadapi oleh seorang pembuat kebijakan. Buku ini menegaskan pendekatan yang jarang dipakai untuk mengenal sejarah dan realitas ekonomi politik melalui konsep “perubahan paradigma (kebijakan)” ((policy) paradigm change). Ia juga menawarkan sudut pandang baru dalam menganalisa kebijakan melalui pengenalan konsep “kesenjangan paradigma” (the paradigm gap) antara ekonomi lokal suatu negara dan ekonomi dunia. Maka tidak berlebihan jika John H. McArthur, Dekan Emeritus Harvard Business School, menyebut buku ini sebagai sebuah kerangka berfikir alternatif untuk memahami kompleksitas pembuatan kebijakan melalui cara yang cepat, dalam kata pengantarnya.

Buku ini terdiri dari dua bab dan di masing-masing bab terdiri dari sebuah essay. Aspek-aspek sejarah dalam perubahan paradigma, khususnya transformasi kapitalisme, dibahas di dalam bab satu. Sedangkan di dalam bab dua, Akari Iida mengupas tentang isu-isu kesenjangan paradigma dalam perdagangan, mata uang, keseimbangan investasi, dan lain-lain yang dihadapi oleh para pembuat kebijakan negara-negara berkembang. Bab dua juga menyentuh permasalahan-permasalahan yang ada dalam filsafat pembangunan dan bantuan untuk negara-negara di dunia ketiga secara umum.

Mengawali pembahasannya, Akari Iida menjelaskan apa itu paradigma. Paradigma biasanya diartikan dengan pola atau model pendekatan dalam bidang sains atau penelitian secara umum. Namun, dalam buku ini paradigma diterjemahkan secara lebih khusus untuk melihat fenomena ekonomi, sosial dan politik. Frase “paradigma ekonomi politik” diartikan sebagai keseluruhan dari seperangkat norma dan seperangkat prasyarat mendasar yang membentuk basis perilaku ekonomi. Sedangkan frase “paradigma kebijakan” merujuk kepada paradigma yang berlaku pada suatu wilayah kebijakan dimana para pembuat kebijakan merenungkan tentang pilihan instrumen kebijakan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kebijakan tertentu.

Para pembuat kebijakan selama ini jarang sekali memperhatikan paradigma. Mereka mengerjakan pekerjaan mereka tanpa pengujian yang cukup terhadap implikasi dari perubahan dan kesenjangan paradigma ini. Karena itulah mengapa dalam buku ini Akari Iida mengajukan teori paradigma sebagai instrumen berpikir dalam pembuatan kebijakan.

Pasca perang dunia kedua, dunia diramaikan oleh pertarungan dua paradigma ekonomi dan politik, yaitu kapitalisme dan sosialisme. Pertarungan ini berakhir dengan kekalahan paradigma sosialis yaitu bersamaan dengan diruntuhkannya tembok Berlin pada bulan November 1989 dan disusul dengan pembubaran Uni Soviet menjadi dua belas negara independen yang membentuk CIS (Commonwealth of Independent States) pada bulan Desember 1991. Dengan kekalahan sosialis, terjadilah pergeseran paradigma ekonomi dan politik dunia.

Akari Iida membagi pergeseran paradigma menjadi dua yaitu pergeseran mayor dan pergeseran minor. Yang dimaksud dengan pergeseran mayor adalah pergeseran paradigma secara besar-besaran seperti pergeseran paradigma sosialis menuju kapitalis. Pergeseran mayor pernah terjadi seperti pasca perang dingin. Ketika struktur bangun perang dingin runtuh di awal 1990an, mayoritas negara sosialis menggeser paradigma mereka menjadi kapitalis.

Adapun yang dimaksud dengan pergeseran paradigma minor adalah pergeseran yang tidak melibatkan perubahan secara menyeluruh dari isi suatu paradigma, melainkan transformasi yang terus-menerus dan bertahap dari bagian-bagian suatu paradigma. Walaupun pergeseran minor terjadi dalam bingkai paradigma mayor (kapitalis atau sosialis), pergeseran minor ini sangat berdampak terhadap perilaku ekonomi perusahaan dan konsumen. Hal ini seharusnya menjadi perhatian serius para pembuat kebijakan.

Negara-negara berkembang biasanya kesulitan mengikuti perubahan paradigma –minor- yang terus menerus ini. Ketika mereka mulai menerima suatu paradigma yang berkembang di pasar, mayoritas negara berkembang masih harus tetap mempertahankan dan menjaga petani, industri yang baru berdiri, usaha kecil dan sistem keuangan mereka yang rapuh dengan cara tetap mendikte aktifitas ekonomi rakyatnya. Dalam kondisi seperti ini negara berkembang akan kesulitan untuk menghadapi perubahan paradigma yang cepat. Kurangnya stabilitas paradigma internasional dan adanya kesenjangan paradigma yang besar akan berdampak buruk terhadap proses pembangunan di banyak negara. Isu inilah yang jarang sekali menjadi fokus perhatian para ekonom pembangunan.

Budaya, Peradaban dan Pembentukan Paradigma

Suatu norma yang berlaku dalam sebuah masyarakat merefleksikan nilai-nilai yang dipegang oleh para konstituennya yang pada gilirannya merepresentasikan kebudayaan suatu negara. Kebudayaan (culture) merepresentasikan nilai-nilai yang dihormati bersama oleh suatu masyarakat yang dalam sejarahnya dibentuk oleh kesamaan identitas etnik, agama dan bahasa. Sedangkan peradaban (civilization) merepresentasikan nilai-nilai yang harus diterima secara universal oleh semua orang tanpa memperhatikan kebudayaan mereka. Oleh sebab itu, dengan sendirinya kebudayaan bersifat defensif dan statis dan sebaliknya peradaban bersifat ofensif dan dinamis.

Sebuah negara biasanya memiliki dua perangkat nilai: yang pertama berasal dari kebudayaannya sendiri dan yang lainnya berasal dari peradaban asing. Dengan alasan politik dan ekonomi, suatu negara bisa saja mengadopsi aspek-aspek peradaban negara lain. Ketika suatu negara dihadapkan pada konflik antara nilai-nilai kebudayaannya sendiri dengan nilai-nilai dari peradaban asing, masyarakat negara itu harus memutuskan nilai-nilai mana yang akan diberlakukan.

Amerika Serikat merupakan melting pot antar ras dan kebudayaan yang berbeda, dimana kepentingan dari setiap kebudayaan yang berbeda tersebut ditegakkan dan dihormati. Tidak diragukan lagi bahwa Amerika Serikat memiliki peradaban yang diwarisi dari Eropa dan ia tidak memiliki kebudayaan asli. Dengan kata lain, kebudayaan di Amerika Serikat terbagi-bagi oleh budaya para pendatang dan karena itu dalam sejarah, usianya relatif muda yaitu sekitar 200an tahun.

Walaupun begitu, ternyata Amerika Serikat mampu membangun sebuah peradaban yang besar. Setelah melewati perjuangan yang panjang dalam menyusun, menginterpretasikan dan mengaplikasikan konstitusi mereka, Amerika Serikat berhasil menegakkan nilai-nilai inti dari peradaban mereka, yaitu seperti kebebasan (freedom), persamaan (equality) dan keadilan (fairness). Walaupun nilai-nilai ini diambil dari filsafat pencerahan Perancis, rakyat Amerika telah menginternalisasikannya dalam kehidupan dan cara berfikir mereka. Pasca pergerakan hak civil (the civil right movement) di awal-awal 1960an, rakyat dan pemerintah Amerika Serikat merasa percaya diri dengan capaian mereka dan dimulailah penyebaran nilai-nilai dari peradaban Amerika di seluruh dunia. Pada saat itu, peradaban Amerika menjadi lebih agresif daripada peradaban Eropa yang mulai agak pasif di paruh terakhir abad ke 20.

Selama tahun 1990an, setelah runtuhnya paham sosialis, nilai-nilai Amerika semakin menyebar di seluruh dunia dengan berbagai bendera, baik dalam bentuk bantuan dari berbagai organisasi internasional, aktifitas perusahan dan lembaga swadaya Amerika dalam kancah global, ataupun dalam bentuk perjanjian regional, bilateral dan multilateral. Hegemoni peradaban Amerika akhirnya menguat, dan disadari atau tidak, nilai-nilai peradaban Amerika telah menjadi nilai inti dari paradigma aktifitas perekonomian dunia saat ini. Tanpa menggunakan kekuatan militer, pada tahun 1990an Amerika mampu menaiki tahta hegemoni ini yang mana tidak bisa dicapai pada dekade-dekade sebelumnya, walaupun dengan kekuatan militer dan ekonomi. Akari Iida menyebut fenomena ini sebagai “perang suci Clinton dengan nilai-nilai Amerika” (Clinton crusade of American values), karena fenomena ini tampak jelas selama masa kepemimpinan Clinton (1992-2000) dan melemah ketika digantikan oleh pemerintahan partai Republik.

Awal masa kepemimpin George W. Bush diwarnai dengan aksi teror yang sering disebut sebagai serangan 11 September 2001. Pasca serangan yang menewaskan ratusan jiwa itu, Amerika Serikat semakin mantap dengan pilihan perubahan paradigma politiknya menjadi liberal imperialis. Bush segera mengumandangkan perang melawan terorisme. Konsentrasi pemerintahannya lebih dipusatkan pada urusan perang. Invasi militer Amerika Serikat ke Iraq dan tindakan-tindakan lain yang sering tidak direstui PBB menimbulkan keraguan dunia internasional akan nilai-nilai peradaban yang selama ini didengungkan Amerika. Dalam hal ini, Amerika secara tidak langsung justru memperlemah hegemoni paradigmanya. Menurut Akari Iida, semakin banyak hal-hal menakutkan yang menjadi perhatian kebijakan luar negeri Amerika, semakin akan memecah opini publik dunia dan sangat mungkin akan mengarah kepada pola aliran modal yang tidak pernah diantisipasi sebelumnya yang bisa saja meruntuhkan hegemoni Amerika.

Prediksi Akari Iida seakan menjadi kenyataan. Di tahun-tahun terakhir masa pemerintahan Bush, Amerika dengan dolarnya hampir bangkrut. Namun Akari Iida juga menambahkan prediksinya bahwa pergeseran paradigma Amerika Serikat ini bukanlah pergeseran permanen melainkan pergeseran yang akan mengambil jalan memutar atau akan kembali lagi ke paradigma liberal kapitalis. Pergeseran memutar ini mulai tampak jelas setelah pemerintahan baru Barrack Obama banyak mengkritisi dan merombak kebijakan pendahulunya. Kalau citra ini bisa bertahan, Amerika dengan nilai-nilai kapitalisme akan menikmati hegemoninya lagi.

Paradigma adalah penentu utama dari arsitektur pasar dan model bisnis. Model bisnis yang tidak sesuai dengan paradigma yang berlaku dipastikan akan tergilas dan karena itu selalu ada kompetisi dalam pencarian model terbaru yang sesuai dengan paradigma yang berlaku atau bahkan menciptakan format yang lebih baik dan dapat menggantikannya.

Karena perbedaan geografis dan tingkah laku manusia, paradigma akan selalu bervariasi dari waktu ke waktu dan dari satu tempat ke tempat yang lain. Selalu ada evolusi dari kandungan isi suatu paradigma. Tidak ada sebuah paradigma yang bisa diterima seutuhnya oleh seluruh negara.

Walaupun paradigma kapitalis berubah dari waktu ke waktu dan terdapat kesenjangan antara paradigma yang dominan secara internasional dan paradigma lokal, nilai-nilai inti dari paradigma kapitalis –kebebasan, persamaan dan keadilan- tetap tidak berubah. Hal inilah yang membuat paradigma ini tetap bertahan.

Namun, akhir-akhir ini, kembali muncul banyak keraguan terhadap paradigma kapitalis. Keraguan ini timbul menyusul terjadinya krisis global. Kapitalisme dianggap gagal dalam mensejahterakan masyarakat dunia. Di antara kelemahan kapitalisme yaitu: kapitalisme melahirkan kesenjangan ekonomi; kekuatan-kekuatan kapitalis selalu bersikap double-standard; kapitalisme secara teoritis memberi kesempatan sama kepada setiap anggota masyarakat, dalam kenyataannya bersifat diskriminatif, bahkan rasis; negara-negara kapitalis melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya negara dunia ketiga.

Dari sekian banyak kelemahan tersebut, tampak bahwa pada dasarnya kritik-kritik terhadap kapitalisme sejalan dengan nilai inti dari kapitalisme itu sendiri. Kelemahan-kelamahan itu bertentangan dengan prinsip keadilan dan persamaan. Maka, sangat mungkin bila krisis yang terjadi saat ini adalah akibat penyelewengan dan pergeseran nilai yang ditawarkan pemegang hegemoni paradigma.

Keberadaan Amerika di puncak hegemoni politik dan ekonomi dunia tergantung kepada penerimaan masyarakat dunia terhadap nilai-nilai yang ditawarkan, tidak selamanya bergantung kepada kekuatan ekonomi dan militer. Pada saat yang sama, kekuatan ekonomi Amerika berasal dari nilai-nilai peradaban Amerika yang dengannya masyarakat Amerika ingin berbagi dengan negara-negara lain. Lazimnya, ekonomilah yang mendikte kebiasaan manusia. Tetapi akhirnya, manusialah yang bertanggung jawab terhadap aktifitas ekonomi. Oleh karena itu, kredibilitas kepemimpinan dalam mengangkat nilai-nilai yang melandasi suatu paradigma, menjadi hal yang terpenting. (AFA)

Jauhilah Hasad

Oleh Ahmad Fathan Aniq

Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam ajaran Islam di samping akidah dan hukum. Akhlak bersumber dari jiwa.Kalau jiwa seseorang baik, niscaya baiklah perilakunya. Sebaliknya, jika jiwanya buruk, buruk pula perilakunya. Rasulullah SAW bersabda, ”Ingatlah! Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah tubuh itu semuanya. Dan jika ia rusak, rusaklah tubuh itu semuanya. Ingatlah! Segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hasad adalah salah satu dari sekian banyak penyakit hati yang ada di dalam diri. Ibnu Taimiyah mengartikan hasad sebagai perasaan tidak suka dengan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada orang lain. Dalam bahasa Indonesia, biasanya diartikan dengan dengki atau iri hati. Orang yang memiliki sifat hasad cenderung resah ketika orang lain senang, tapi gembira bukan kepalang ketika melihat orang lain susah. Mereka melihat orang lain yang didengki dengan pandangan negatif. Sebaik apa pun pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang didengki itu, akan selalu tampak salah di mata orang yang dengki.

Maka benarlah kalau Rasulullah SAW sampai mengingatkan, ”Jauhilah hasad, karena hasad itu dapat menghapuskan semua kebaikan sebagaimana api yang membakar kayu.” (HR Abu Daud). Seorang pendengki dalam meluapkan kedengkiannya biasanya akan melakukan tindakan tidak terpuji. Contohnya, ketika ia melihat keberuntungan orang lain, sebisa mungkin ia akan merusak nama baik orang yang beruntung itu, baik dengan menggunjingkannya (gibah), mengadu domba (namimah), bahkan dengan memfitnahnya.

Pada hakikatnya, orang-orang yang hasad senantiasa menebarkan rasa permusuhan terhadap orang lain. Tidak ada keuntungan dari hasad karena hanya akan merugikan si pendengki sendiri. Andaipun nikmat yang ada pada seseorang yang didengki itu hilang sebagaimana yang dikehendaki oleh si pendengki, nikmat itu tidak akan berpindah kepadanya, sebesar apa pun rasa hasad itu. Jika hal ini telah disadari, untuk apa kita menyimpan hasad dalam hati.

Selain itu, hasad juga digambarkan di dalam Alquran sebagai karakter orang-orang Yahudi. Allah SWT berfirman, ”Ataukah mereka dengki pada manusia (Muhammad) lantaran karunia Allah telah diberikan kepada manusia itu?” (QS Annisaa [4]: 54). Karakter dengki membuat orang Yahudi tidak akan pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Maka, apabila ada seorang Muslim yang berwatak pendengki, ia tak ubahnya seperti orang-orang Yahudi. Sebagaimana hadis Nabi SAW, ”Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Daud). Semoga Allah SWT selalu menjauhkan kita dari sifat hasad.

Republika, 16 Februari 2009

Mempertegas Posisi Amil

Oleh Ahmad Fathan Aniq

Setiap bulan Ramadhan tiba, umat Islam selalu berlomba-lomba untuk berderma. Tak hanya dengan membayar zakat fitrah, tetapi juga dengan melakukan berbagai bentuk derma yang lain seperti sadaqah, infaq dan waqaf. Zakat al-mal atau zakat harta yang pembayarannya dilakukan tiap kali mencapai masa haul pun biasanya dikeluarkan pada bulan Ramadhan. Hal ini dapat dipahami, mengingat setiap amal kebajikan yang dilakukan dengan ikhlas pada bulan ini akan dilipatgandakan ganjarannya.

Sejalan dengan itu, sudah menjadi tradisi dalam masyarakat Muslim Indonesia untuk membentuk panitia lokal yang memposisikan diri mereka sebagai ‘amil, atau sebuah badan yang berfungsi mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, infaq dan sadaqah tersebut. Mereka tumbuh menjamur bak cendawan di musim hujan. Jumlah mereka berbilang, hampir di setiap desa terdapat kepanitian ‘amil.

Hal ini memiliki nilai positif. Karena derma yang dikeluarkan oleh seorang muzakki akan melewati kepanitian ‘amil sebelum akhirnya sampai kepada delapan kelompok orang yang berhak menerimanya yang disebut mustahiqqun. Dalam proses ini, ‘amil menempati posisi yang sangat penting, sehingga wajar saja kalau dalam al-Qur’an mereka ditempatkan pada posisi ketiga sebagai mustahiq setelah kelompok faqir dan miskin. Penempatan mereka pada nomor urut ketiga tentu bukan tanpa makna, tetapi merupakan penegasan akan pentingnya keberadaan mereka pada upacara derma. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa zakat al-mal yang dikeluarkan tanpa melalui ‘amil akan dianggap sebagai sadaqah tathawwu’ah biasa dan tidak bisa menggugurkan kewajiban zakat al-mal tersebut.

Salah satu di antara sekian banyak fungsi ‘amil yaitu untuk menghilangkan budaya patronase atau budaya hutang budi antara si pemberi dan si penerima. Tujuan disyari’atkannya zakat al-mal selain untuk menyucikan harta seorang muzakki adalah untuk memperkecil atau bahkan menghilangkan sama sekali gap atau jarak antara si kaya dan si miskin, dan inilah yang disebut keadilan. Kata keadilan dan kata-kata yang senada dengannya seperti al-qisth dan al-mizan merupakan kata ketiga yang paling sering disebut dalam al-Qur’an setelah kata “Allah” dan “ilmu pengetahuan”. Karena keadilan merupakan cita-cita ideal zakat, maka pemberian dengan niat menciptakan patronase adalah bertentangan dengan tujuan luhur zakat. Memang, sebagian orang ketika berderma secara langsung mungkin tanpa disertai dengan maksud riya’ ataupun menciptakan patronase tadi. Tetapi ketika si mustahiq menerima uluran tangan si kaya, tanpa disadari dia akan merasa berhutang budi terhadap si pemberi. Maka, ini seakan menegaskan bahwa si penerima sudah seharusnyalah tunduk dan patuh terhadap si pemberi, dan inilah yang disebut budaya patronase.

Memang berat untuk memberi tanpa harus diketahui orang lain. Tetapi disinilah kita diuji untuk berbuat dan beramal secara ikhlas. Apakah perbuatan kita selama ini semata-mata diniatkan untuk Allah Swt. ataukah juga untuk berhala-berhala penghormatan dan sanjungan dari orang lain? Hanya Allah dan hati kita sendiri yang tahu.
Kita tentu sering mendengar kasus pembagian zakat yang sebenarnya diawali dengan niat baik tetapi akhirnya berakhir dengan duka yang sangat memilukan. Kejadian yang paling akhir tentunya tewasnya 21 orang dhu’afa yang memperebutkan dana zakat sebesar tiga puluh ribu rupiah per orang di Pasuruan. Ini tentu akibat kelalaian pihak pemberi. Mungkin kejadiannya akan menjadi lain kalau H. Syaikhon selaku muzakki mempercayakan dana zakatnya kepada ‘amil. ‘Amil tentu memiliki data orang-orang yang berhak menerima zakat.

Pada titik ini, sekali lagi, ‘amil akan menjadi pihak ketiga yang menjadi penghubung antara si kaya dan si miskin. Si kaya menyerahkan sebagian hartanya yang di dalamnya terdapat hak-hak orang miskin kepada ‘amil, dan ‘amil menyerahkan harta tersebut kepada para mustahiq tanpa harus memberi tahu siapa si pemberi. Dengan itu, si penerima atau mustahiq akan menerima harta zakat yang memang sudah menjadi hak mereka dengan penuh kebahagiaan dan tanpa ada rasa beban budi terhadap si pemberi. Dan dengan itu juga, dia akan merasakan indahnya beragama Islam. Betapa Islam dengan syari’atnya begitu menghargai persamaan dan keadilan dan tentunya mengangkat mereka yang kecil dan terpinggirkan. Maka benarlah sabda Rasulullah Saw. bahwa Allah berada sangat dekat dengan orang miskin dan yang dizholimi. Wallahu A’lam.

Diterbitkan di “an-Nur” Edisi bulan Ramadhan, Lembar Dakwah Santren al-Muniriyah Rempung Lombok Timur. 26092008

2000 Rupiah di Tahun 2009

Sekitar dua jam sebelum azan Jumat dikumandangkan, suhu di Surabaya cukup panas menembus pori-pori kulit. Seorang paruh baya tampak begitu letih memikul anyaman-anyaman rotannya. Entah sudah berapa kilometer ia berjalan menyusuri A. Yani, jalanan utama kota Surabaya. Di bawah rindangnya pepohonan di depan Graha Pena Jawa Pos, tempat saya sengaja menunggu bis menuju Hi Tech Mall di Jalan Kusuma Bangsa, lelaki itu menyempatkan diri beristirahat melepas lelah. Ia duduk di sebaris tembok pendek yang membatasi sisi kali kecil yang airnya tidak jernih lagi. Anyaman rotannya yang menyerupai cincin-cincin raksasa itupun ia letakkan persis di depannya.

Menyadari ada saya di sampingnya, lelaki itu segera menghampiri saya dan bertanya.

“Mas, kalau kita mengikuti terus jalan ini, kita akan sampai dimana?”

Saya yang baru beberapa hari tinggal di Surabaya tidak lantas menjawab pertanyaan lelaki itu melainkan balik bertanya.

“Maaf Pak, memangnya tujuan Bapak kemana?”

“Ke Wonokromo, apa masih jauh dari sini?”

Karena mengetahui letak Wonokromo yang tidak begitu jauh dari Jalan Ahmad Yani tempat dimana Graha Pena Jawa Pos yang salah satu sisinya mirip seperti pena tegak berdiri, dengan yakin saya memberi tahu bahwa jaraknya sudah dekat. Sekitar lima menit naik angkutan. Tidak lama kemudian ada angkutan jurusan Joyoboyo lewat dan langsung saja saya menunjukkan Bapak itu, “Nah, angkot ini akan melewati Wonokromo, Bapak bisa naik angkot ini”.

Ketika menoleh ke samping tempat lelaki itu tadi berdiri, ia sudah tidak di tempatnya. Ternyata ia sudah bersusah payah lagi memikul anyaman-anyaman rotannya dan melanjutkan perjalanannya searah dengan arah angkutan itu.

Saya baru tersadar bahwa lelaki itu sedari tadi datang dengan berjalan kaki dan berhenti sekedar untuk beristirahat. Dia tidak berniat naik angkutan kota ataupun bis. Saya telah salah menunjukkannya angkutan yang bisa membawanya ke Wonokromo. Walau ongkos angkutan dengan jarak sedekat itu cuma dua ribu rupiah, lelaki itu lebih memilih untuk berjalan kaki di bawah panasnya terik matahari yang membakar.

Saya jadi berpikir betapa berharganya uang dua ribu rupiah bagi lelaki itu. Dari usahanya memikul itulah dia mendapatkan untung. Dan apabila dia naik angkutan, bisa jadi dia tidak mendapatkan untung sama sekali. Luar biasa perjuangan lelaki itu untuk menafkahi diri dan keluarganya. Bahkan untuk memperoleh rizki yang sudah ditetapkan oleh Allah, dia harus bersusah payah seperti itu. Saya yakin, Allah dengan pandangan sayang dan adil-Nya pasti akan mencatat jerih payah lelaki itu. Allah telah menciptakan daya pada diri kita. Lalu tergantung kitalah untk apa daya itu kita pergunakan. Dengan potensi memilih inilah menurut al-Maturidi manusia akan diberi ganjaran atau disiksa.

Lelaki itu telah hilang dari pandangan. Tapi saya masih terpaku memikirkan dialog singkat kami tadi. Sambil menunggu bis yang belum juga menunjukkan bentuknya yang panjang seperti balok, saya jadi teringat masa-masa kecil saya di kampung halaman, Rempung.

Rumah saya tepat berada di pinggir jalan negara yang menghubungkan ibukota provinsi dengan kota-kota kabupaten di pulau Sumbawa yang berada di sebelah timur pulau Lombok. Di sebelah barat desa saya ada dusun kecil bernama Penakak yang terkenal dengan kerajinan gerabahnya. Selain membuat barang-barang dari tanah liat yang bernilai tinggi yang siap dijual ke luar pulau atau untuk dijajakan pada para wisatawan asing yang bertandang ke Lombok, mereka juga membuat barang-barang gerabah yang dipasarkan untuk masyarakat lokal. Umumnya barang-barang yang mereka jual adalah seperti tungku tanah untuk memasak, cobek untuk membuat sambal dan berbagai peralatan dapur lainnya.

Tujuh kilometer di sebelah timur desa saya ada kota kecamatan Aikmal yang pasarnya cukup ramai. Di sanalah para pengrajin ini menjual sebagian barang-barang hasil kerajinan tangan mereka. Setiap selepas shalat subuh, akan terdengar iring-iringan orang Penakak memikul bertumpuk-tumpuk gerabah mereka. Ketika mereka berjalan, kayu bambu yang dipakai untuk memikul akan mengeluarkan suara khas menandakan betapa beratnya barang yang mereka bawa. Bambu-bambu itu mengeluh seolah-olah akan patah, tetapi daya elastisitasnya ternyata lebih kuat dari berat barang bawaan orang-orang Penakak itu. Mereka memilih membawa sendiri dagangan mereka karena di sanalah keuntungan mereka. Mereka terus berjalan ke arah timur menuju Aikmal seakan berlomba-lomba tak mau kalah dengan terbitnya matahari.

Dalam suasana seperti itulah, ibu dan ayah sesekali mempersilahkan mereka mampir ke rumah sekedar untuk beristirahat dengan suguhan kopi hangat, atau sesekali ibu dan ayah membeli jualan mereka. Ketika hendak berpisah dan akan melanjutkan perjalanan, tampak ada keceriaan yang tulus di wajah mereka. Ada rasa persaudaraan yang hangat sehangat suguhan kopi walaupun kami belum pernah saling kenal. Mungkin inilah indahnya memberi. Ada kebahagiaan tersendiri yang hadir memenuhi sanubari ketika kita bisa memberi. Benar, kita akan bahagia bila diberi sesuatu. Tetapi kebahagiaan menerima tidak akan bisa mengalahkan kebahagiaan memberi.

Pengalaman orang-orang penakak berjalan kaki membawa dagangan mereka ke pasar itu terjadi belasan tahun yang lalu. Kini, jalanan kampung saya, Rempung, di pagi hari tidak lagi diramaikan oleh iring-iringan orang Penakak itu. Entah apakah karena tungku tanah dan perbotan dapur dari tanah sudah tidak laku lagi di pasaran ataukah karena mereka lebih memilih naik angkutan? Entahlah.

Tetapi siang tadi, pengalaman yang saya saksikan belasan tahun yang lalu hadir lagi. Namun tidak di kampung saya, tapi di kota pahlawan, Surabaya. Di kota terbesar kedua di Indonesia ini, masih ada orang berjalan kaki untuk memperoleh rizkinya. Tidak muluk-muluk, cuma dua ribu rupiah, seharga ongkos angkutan. Bukan juga di tahun seribu sembilan ratusan, tapi di tahun dua ribu sembilan. Tepat dua hari setelah orang beramai-ramai membakar kembang api dan petasan yang harganya entah berapa kali lipat ongkos angkutan. Demi untuk menyambut pergantian tahun.

Maka dengan suara lirih saya ucapkan, selamat tahun baru..! (AFA)

Surabaya, 02012009

Personal growth course travels to the Netherlands

Alpha Amirrachman ,  Contributor, Delft, the Netherlands   |  Thu, 06/12/2008 10:18 AM  |  Potpourri

In a time when competition is high and a hedonistic way of life sometimes pervasive, a training program recently tried to inject new spirit into people’s lives at an Indonesian Diaspora meeting in the Netherlands.

Participants of the Emotional and Spiritual Quotient training program in Delft, the Netherlands, conduct exercises lead by the program’s trainers. (JP/Alpha Amirrachman)Participants of the Emotional and Spiritual Quotient training program in Delft, the Netherlands, conduct exercises lead by the program’s trainers. (JP/Alpha Amirrachman)

The Emotional and Spiritual Quotient (ESQ), founded by Ary Ginandjar, is a multi-media training program to encourage personal growth in leadership, well-being and Islamic spiritual values.

The three-day course is conducted in a theatrical manner, sometimes directly engaging — and challenging — participants.

“Do you love your children or God?” yelled trainer Syamsul Rahman against the backdrop of a movie of the Prophet Ibrahim, who was instructed by God to slaughter his son Ismail.

Syamsul said that after the training, participants would not be bogged down with despair over the loss of loved ones or when they fail to reach their targets in work.

“There is always a blessing in disguise,” he said on the sidelines of the presentation, adding that participants were gently encouraged to reflect on many aspects of their life, both the successes and failures.

Syamsul was flown in from Indonesia to deliver the recent training in a huge sport gym in the city of Delft, between Rotterdam and the Hague.

Creative leadership exercises and games were also presented to pump up the intellectual, social and entrepreneurial aspects of the participants.

William Satriaputra de Weerd, an Indonesian living in the Netherlands who organized the training, said there had been 350 ESQ alumni in the country since it was first conducted in 2006.

“Thirty-six participants today are from around Europe such as the Netherlands, France and the UK,” said William, who has lived in the Netherlands since 1974.

Couple Mujilah and Hans Ham from Amsterdam said the training had given them time to reflect on their everyday lives.

“It releases us from our regular stress,” said Mujilah.

“The training is a breakthrough in examining the human mind; it goes beyond contemporary approaches,” said surgeon Hisham from London.

His wife, IT consultant Azlin, said they had promising careers and money but something had been missing. “We have found it here,” she said.

Ahmad Fathan Aniq from Leiden had a slightly different perspective. “While I don’t really agree with using scientific explanations for the Koran, because it restricts the holy book into time-space bounds, the leadership and emotional development in the training is really mentally refreshing.”

“I feel that I have been able to revitalize all the positive values that are already embedded but underdeveloped deep in our psyches,” he said.

The first day of the training fell under the theme Inner Journey, where participants joined interactive dialogues filled with philosophical stories, exercises and games to enable them to identify their personal potential.

The second day was Outer Journey, introducing participants to the vastness of the universe and the unlimited potential it offers our lives.

The last day focused on Building Creativity, exploring possible action, missions in life, character building and self-control.

While a majority of the participants were Muslims, anyone was welcome in the course, William said.

“Now there are around 500,000 alumni in Indonesia and 3,000 of them are non-Muslims,” Syamsul added.

Syamsul said due to the increasing demand, founder Ary was now in the process of designing “ESQ Universal” to reach wider audiences including non-Muslims “so that everyone can fully benefit from this program”.

http://www.thejakartapost.com/news/2008/06/12/personal-growth-course-travels-netherlands.html

Komisi Hak Asasi Manusia di Indonesia dan Malaysia

Hampir 15 tahun Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menjalankan tugasnya menyelidiki, memantau dan memediasi permaslahan HAM di Indonesia. Dalam rentang waktu yang tidak singkat itu, Komnas HAM telah mewarnai perjalanan penegakan HAM. Perjalanan ini tidaklah ringan. Karena dengan segala keterbatasan wewenangnya, Komnas HAM dihadapkan pada setumpuk kasus pelanggaran HAM yang harus diselesaikan. Terlebih di tahun-tahun awal berdirinya, seperti umumnya di negara-negara berkembang, Komnas HAM harus berani melawan kekuatan rezim militer yang mengendalikan pemerintahan. Keadaan yang hampir sama juga dihadapi oleh Suruhanjaya Hak Asasi Manusia Malaysia (SUHAKAM), semacam komisi nasional dalam bidang HAM di Malaysia.

Hal inilah yang menarik perhatian Ken Setiawan, seorang peneliti pada Van Vollenhoven Institute, Universitas Leiden. Pada hari Kamis 27 Maret kemarin, bertempat di ruang pertemuan KITLV, Ken menyampaikan hasil sementara penelitiannya mengenai peran kedua institusi negara tersebut dalam penegakan HAM di Indonesia dan Malaysia.

Sejak tahun 1990, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyerukan tiap-tiap negara untuk membentuk komisi HAM. Langkah ini diambil karena undang-undang internasional tentang HAM yang sudah disahkan ternyata sangat sulit diterapkan pada tataran negara. Tiap-tiap negara memiliki penafsiran yang tidak sama terhadap HAM. Sejak saat itu, beberapa negara membentuk komisi HAM yang berada di bawah pengawasan pemerintah. Saat ini terdapat setidaknya seratus institusi negara yang menangani masalah HAM di seluruh dunia.

Pembentukan Komnas HAM pun merupakan salah satu bentuk tindak lanjut dari lokakarya tentang Hak Asasi Manusia yang diprakarsai Departemen Luar Negeri RI dan PBB yang diadakan di Jakarta pada 22 Januari 1991. Tak heran, ketika Komnas HAM akhirnya disahkan pada tanggal 7 Juni 1993 oleh Presiden Republik Indonesia, banyak pihak yang merasa pesimis dan menganggap ada agenda tersembunyi pihak asing dalam pembentukan Komnas HAM.

Menurut Ken, ada beberapa faktor yang menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat. Di antaranya, komisi ini dibentuk atas Keputusan Presiden Soeharto No. 50 Tahun 1993, yang kala itu juga menunjuk langsung mantan Jaksa Agung Ali Said untuk duduk sebagai ketuanya. Komisi ini juga dibentuk beberapa saat setelah terjadinya peristiwa berdarah di Liquisa, Timor Timur. Terlebih lagi, komisi ini dibentuk hanya seminggu setelah konferensi PBB di Vienna, Austria. Akhirnya banyak yang beranggapan bahwa Komnas HAM dibentuk hanya untuk menjawab kritikan dan sorotan dunia terhadap kasus pelanggaran HAM di Timor Timur.

Keraguan masyarakat akhirnya luntur setelah Komnas HAM mampu menyeleseikan kasus pelanggaran HAM di Timor Timur dengan membawa pelakunya ke pengadilan. Keberhasilan ini diikuti dengan pengusutan-pengusutan kasus lain saat itu seperti kasus pembunuhan Marsinah, aktivis buruh di Jawa Timur dan pelanggaran HAM di Timika, Papua. Dalam laporannya, Komnas HAM tak jarang menunjuk pemerintah dan militer sebagai pelaku pelanggaran HAM. Karena itu, komisi ini seringkali mendapat ancaman pembubaran dari pemerintah. Namun Komnas HAM tetap saja melakukan pengusutan demi pengusutan. Hal ini akhirnya semakin menerbitkan kepercayaan masyarakat.

Keberhasilan lainnya, tambah Ken, yaitu Komnas HAM mampu membuka dan memediasi dialog antar berbagai kelompok yang berbeda. Di antaranya, menjadi mediator antara PBB dan pemerintah dalam bidang HAM. Pernah beberapa kali Komnas HAM berhasil menyarankan pemerintah Indonesia untuk meratifikasi konvensi internasional. Adapun sosialisasi pada tataran masyarakat, dilakukan antara lain dengan pengadaan workshop, training dan penerbitan. Bahkan Komnas HAM dalam hal ini tercatat sebagai organisasi pertama yang memberikan pendidikan HAM di Indonesia.

Lebih jauh, Ken juga membicarakan dinamika internal Komnas HAM, mulai dari perubahan sistem pemilihan anggota komisi sampai dengan proses pengambilan kebijakan. Menurutnya, tidak jarang kebijakan yang dikeluarkan Komnas HAM lebih dipengaruhi oleh elemen masyarakat tertentu. Seperti dalam kasus Ahmadiyah, Komnas HAM mengecam pelaku tindakan anarki terhadap warga Ahmadiyah, tetapi Komnas HAM sama sekali tidak menyinggung lembaga yang mengeluarkan fatwa pelarangan Ahmadiyah.

Mengenai SUHAKAM, Ken menjelaskan bahwa lembaga ini lahir lebih untuk menjawab realita lokal Malaysia pada tahun 1999, khusunya kasus pelengseran Anwar Ibrahim, mantan deputi perdana menteri Malaysia. Walaupun institusi ini disahkan oleh raja Malaysia, namun institusi ini sangat kritis terhadap pemerintah. Melihat peran SUHAKAM yang tidak “menguntungkan” pemerintah, Mahathir Mohamad mengatakan bahwa SUHAKAM lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan luar. Ketika Mahatir memerintah, ia beberapa kali mengganti orang-orang yang dianggap kritis dalam struktur SUHAKAM. Pemecatan dan penggantian ini terus berlanjut pada tahun 2004 dan 2006 ketika Abdullah Badawi memerintah.

Bagaimanapun, Ken menilai bahwa SUHAKAM berhasil memperjuangkan HAM di Malaysia, walaupun itu masih dalam ruang lingkup yang terbatas. SUHAKAM lebih banyak bergerak pada isu-isu yang tidak kontroversial seperti dengan menanamkan pendidikan HAM di universitas-universitas Malaysia. Walaupun, mereka juga berhasil mengusut pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan polisi atau rela yang dipersenjatai. Ken menilai bahwa keberadaan SUHAKAM masih diremehkan pemerintah. Hal ini bisa dilihat dari rekomendasi-rekomendasi SUHAKAM yang jarang didengarkan pemerintah. SUHAKAM masih kurang berinisiatif untuk terus melobi dewan dan pemerintah agar menerima rekomendasi mereka.

Secara umum, Ken menilai bahwa baik Komnas HAM maupun SUHAKAM dalam posisi mereka yang berhadapan dengan negara semi-otoriter, telah mampu mengangkat kasus-kasus pelanggaran HAM berat ke ruang debat publik. Sejauh ini, apa yang telah dilakukan kedua komisi ini banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Di Malaysia, beberapa anggota SUHAKAM yang kritis diganti. Di Indonesia, kewenangan Komnas HAM seringkali dikebiri melalui politisasi prosedural hukum. Konsekuensinya, komisi-komisi ini agak selektif dalam memilih isu-isu HAM. Sejauh menyangkut konvensi HAM internasional, kedua komisi ini masih kesulitan menerapkannya pada konteks nasional Indonesia dan Malaysia. Bagaimanapun mereka telah turut andil dalam pembentukan civil society. (fathan)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.